Oleh Sulaiman Romaro*
Sepak bola bukan hanya tentang mengejar prestasi di lapangan hijau. Ia juga berbicara tentang integritas, profesionalisme, dan kepatuhan terhadap regulasi yang telah disepakati bersama.
Karena itulah, pelaksanaan Pra PORA cabang sepak bola menjadi momen penting untuk menguji sejauh mana komitmen kita terhadap nilai-nilai tersebut.
Sebagai Ketua Asprov APSSI Aceh, saya merasa perlu menegaskan bahwa setiap bentuk pelanggaran aturan, terutama yang berkaitan dengan lisensi pelatih dan intervensi dari pihak luar, tidak dapat ditoleransi.
Ini bukan sekadar retorika, langkah hukum akan diambil terhadap siapa pun yang dengan sengaja mengabaikan aturan yang ada.
Regulasi Bukan Formalitas
Lisensi pelatih, baik itu pelatih kepala, asisten, maupun pelatih kiper, bukanlah hiasan administratif. Ia adalah indikator bahwa seseorang layak membina dan membimbing sebuah tim secara profesional.
Bila ada pihak yang nekat memakai lisensi orang lain atau menjadikan kursi pelatih sebagai alat kompromi politik, maka yang dipertaruhkan bukan hanya hasil pertandingan, tapi juga masa depan pemain dan sepak bola kita.
Sudah terlalu lama praktik intervensi daerah mengganggu dunia sepak bola Aceh. Ada yang ingin ‘mengatur’ pelatih, menyodorkan nama titipan, atau mengabaikan rekomendasi yang sah dari asosiasi pelatih.
Ini tidak boleh dibiarkan. Ketika aturan dilanggar, maka hukum harus ditegakkan. Jika tidak, regulasi hanya akan menjadi dokumen mati yang kehilangan wibawa.
APSSI Sebagai Pengawas Proses
Kami di APSSI Aceh tidak akan diam. Setiap pertandingan Pra PORA akan diawasi secara aktif, baik dari sisi teknis maupun administratif. Tujuannya satu: memastikan bahwa kompetisi berlangsung adil dan murni. Kami ingin memastikan bahwa tim terbaik menang karena kerja keras, bukan karena manipulasi aturan.
Patuhi regulasi, hormati proses, dan jangan permainkan aturan. Hanya dengan cara ini, kita bisa membangun ekosistem sepak bola yang sehat, berdaya saing, dan layak dibanggakan. Kalau kita lengah hari ini, maka kita sedang menggadaikan masa depan pemain muda kita.
Saya mengajak semua pemangku kepentingan: pelatih, pengurus, pemain, dan pemerintah daerah, mari kita kedepankan integritas. Jangan korbankan prinsip demi kepentingan sesaat.
Sepak bola Aceh membutuhkan fondasi yang kuat dan keberanian untuk berkata: cukup sudah pelanggaran aturan. Kini saatnya menjunjung marwah sepak bola kita bersama.
*Penulis adalah Ketua Asosiasi Pelatih Sepak Bola Seluruh Indonesia (APSSI) Provinsi Aceh


















Komentar