Oleh Ramadhan Al Faruq, Pecinta Sepak Bola
Ramai yang mempertanyakan keputusan Persiraja membuka seleksi pemain putra daerah untuk menghadapi Championship 2026/2027. Pertanyaannya sederhana: memang apa yang salah?
Justru langkah seperti ini layak diapresiasi. Idealnya, program pencarian bakat lokal bukan hanya dilakukan ketika dibutuhkan, tetapi menjadi agenda rutin setiap musim.
Bukan berarti Persiraja harus diisi sepenuhnya oleh pemain lokal. Sepak bola profesional tetap membutuhkan komposisi skuad terbaik.
Namun, jika setiap musim ada lima hingga tujuh pemain Aceh yang berhasil naik ke level profesional, itu sudah menjadi investasi besar bagi masa depan sepak bola daerah.
Aceh tidak pernah kekurangan talenta. Sayangnya, ruang bagi mereka masih sangat terbatas karena praktis hanya Persiraja yang menjadi jalur utama menuju sepak bola profesional.
Tanpa proses seleksi yang terbuka dan berkelanjutan, banyak potensi berisiko berhenti di level amatir.
Faktanya, hasil pencarian bakat Persiraja juga tidak bisa dianggap gagal. Nama-nama seperti Zikri Ferdiansyah, M. Revan, Muammar, Madon, Hamdi, Fitra Ridwan, hingga Ismed Sofyan menjadi bukti bahwa pemain lokal Aceh mampu berkembang ketika diberi kesempatan.
Mungkin tanpa Persiraja, sebagian dari mereka tidak pernah dikenal di level nasional.
Memang, kini sudah ada akademi dan agensi pemain yang turut membantu proses pembinaan. Namun, tidak semua talenta memiliki akses yang sama terhadap jalur tersebut.
Karena itu, klub tetap memegang peran penting sebagai jembatan antara sepak bola akar rumput dan kompetisi profesional.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah klub tidak hanya diukur dari promosi ke kasta tertinggi, tetapi juga dari seberapa besar kontribusinya dalam melahirkan pemain berkualitas bagi sepak bola Indonesia.
Karena itu, lanjutkan program ini, Persiraja. Terus mencari, terus mengorbitkan, dan terus membuka pintu bagi talenta-talenta Aceh.
Lebih dari itu, Persiraja harus mulai membangun tradisi sebagai klub yang memproduksi pemain, bukan sekadar mengumpulkan pemain.
Pembinaan yang berjenjang akan melahirkan regenerasi yang sehat, sehingga setiap musim selalu tersedia bibit-bibit yang siap mengisi skuad utama.
Dengan cara itulah Persiraja tidak hanya membangun tim untuk hari ini, tetapi juga menyiapkan fondasi bagi masa depan sepak bola Aceh.
Biarkan mereka terbang setinggi mungkin berkat kualitas dan kerja kerasnya, bukan karena menunggu tepuk tangan dari siapa pun.
Kalaupun pada suatu musim Persiraja belum berhasil meraih promosi, tetapi mampu melahirkan beberapa pemain lokal yang menembus level profesional, itu tetap merupakan sebuah kemenangan.
Sebab membangun ekosistem sepak bola yang sehat bukan hanya tentang hasil hari ini, melainkan memastikan selalu ada generasi berikutnya yang siap melanjutkan perjuangan. [a]




















Komentar