Opini

Persada Lolos 8 Besar Soeratin U-17 Nasional, Siapa Head Coach-nya?

Oleh: Masri Pribumi*

Pertanyaan pertama yang muncul di benak penulis ketika mendengar kabar Persada Aceh Barat Daya (Abdya) lolos ke babak delapan besar Piala Soeratin U-17 2026 adalah: apakah head coach yang membawa tim ini menjuarai Soeratin Aceh ikut mendapat panggung yang sama?

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Sering kali, ketika sebuah tim mulai mencuri perhatian, susunan orang di sekelilingnya ikut berubah mengikuti kebutuhan dan sorotan.

Apresiasi pun meluas ke berbagai pihak, bahkan terkadang menjauh dari mereka yang paling lama bekerja membangun tim: pemain dan pelatih.

Di ruang publik, komentar seperti “memang bereh Pak Bup” atau “memang jitu manajer tim” mulai bermunculan. Tendensius? Mungkin. Salah? Tidak juga.

Bupati memang punya peran. Manajer juga demikian. Dukungan pemerintah dan kemampuan manajemen mengelola tim tidak bisa dikesampingkan. Namun, sepak bola tidak dimainkan oleh jabatan.

Di lapangan ada sebelas pemain, dan di belakang mereka berdiri seorang head coach yang bertanggung jawab atas pemilihan pemain, strategi, pergantian, hingga keputusan-keputusan yang terkadang hanya memiliki waktu beberapa detik untuk dibuat.

Pelatih ikut menentukan kedalaman skuad, menjaga kondusivitas ruang ganti, dan membangun karakter permainan. Cara berpikir, sikap, serta kepribadiannya turut memengaruhi bagaimana sebuah tim tampil.

Analisis teknis dan strategi yang diterapkannya menjadi bagian penting dalam menentukan arah pertandingan. Ketika tim kalah, pelatih pula yang kerap berada di barisan terdepan untuk menanggung kritik.

Lalu, siapa head coach Persada U-17 tahun ini?

Namanya Rahmat Fitra. Publik Abdya mengenalnya sebagai Coach RF.

Rahmat Fitra kini berusia 41 tahun. Lahir di Guhang, ia tumbuh dalam lingkungan sepak bola. Dahulu, ia merupakan talenta muda Persada yang sempat digadang-gadang akan bersinar. Namun, cedera lutut memaksanya mengubur impian menjadi pemain profesional.

Ia tidak meninggalkan sepak bola. Rahmat justru memilih jalan lain: menjadi pelatih dan membina pemain muda. Pada 2013, ia mendirikan Sekolah Sepak Bola (SSB) Bidjeh Sigupai Abdya.

Perjalanannya dimulai dari lapangan-lapangan pembinaan usia dini. Pada 2017, ia dipercaya menjadi pelatih pengganti tim FOSSBI Aceh U-12 dalam Kejurnas FOSSBI di Solo karena pelatih Ajuran berhalangan hadir. Tim tersebut berhasil meraih medali perunggu.

Kariernya berlanjut ketika Abdya Football Academy menunjuknya sebagai head coach pada 2019–2021. Sejak 2022 hingga sekarang, ia dipercaya menangani Sigupai Abdya Academy. Ia juga pernah menangani tim Popda Abdya pada 2022 dan 2024.

Saat ini, Coach RF mengantongi lisensi kepelatihan C AFC, yang menjadi bekal untuk terus mengembangkan kapasitasnya dalam pembinaan sepak bola, khususnya usia muda.

Dari proses panjang tersebut, sejumlah talenta muda berhasil ia orbitkan ke level regional. Di antaranya Jefri Maulana dan Al Furqan Hidayat. Sementara itu, Andika Maulana dan Faiz Wafi berhasil lolos seleksi dan masuk skuad Persiraja Banda Aceh.

Perjalanan itu menunjukkan bahwa keberhasilan membina pemain tidak lahir dalam semalam. Ada proses panjang, latihan berulang, evaluasi, dan kesabaran menghadapi perkembangan setiap anak.

Sebelum Persada U-17 berbicara di panggung nasional, Coach RF telah lebih dahulu menghabiskan waktu membentuk pemain-pemain muda.

Menurut keterangan tim, proses seleksi Persada dilakukan secara terbuka dan objektif dengan mengutamakan kemampuan pemain. Proses tersebut mendapat dukungan penuh dari Bupati Abdya Dr. Safaruddin, S.Sos., M.S.P., selaku pembina Persada.

Dalam waktu relatif singkat, komposisi tim dibentuk melalui program latihan yang terukur dan terencana. Kebersamaan pemain juga dibangun di luar sesi latihan, termasuk melalui kegiatan salat berjamaah.

Tentu saja, Coach RF tidak bekerja sendirian. Ia dibantu asisten pelatih Sahul dan M. Arief, pelatih kiper Khairil Alfian atau Codet, manajer Alan Pirlo, tenaga medis Fitriadi, serta kitman Ahmad Alfandi.

Mengakui kontribusi pelatih bukan berarti mengecilkan peran pihak lain. Bonus dan motivasi dari pejabat daerah dapat menjadi energi tambahan bagi pemain. Kemampuan manajer menjaga tim tetap solid juga patut diapresiasi.

Begitu pula dukungan para pencinta Persada dan sponsor. Dukungan tersebut menjadi penyemangat bagi pemain sekaligus membantu menjawab kebutuhan pendanaan yang besar, terutama ketika tim harus bertanding di luar kandang.

Semua unsur itu selaras dengan tagline Persada kali ini: “Satu Hati, Satu Kata, Persada Juara.”

Namun, di antara seluruh unsur yang menopang sebuah tim, pelatih memiliki tanggung jawab khusus ketika pertandingan berlangsung. Ia harus membuat keputusan krusial di bawah tekanan, mengandalkan pengamatan, analisis, dan intuisi yang terus terasah melalui pengalaman.

Coach RF memperlihatkan hal tersebut dalam perjalanan Persada menuju gelar juara Soeratin U-17 Aceh. Salah satu contohnya terjadi saat menghadapi tuan rumah Juang FC Bireuen pada semifinal.

Banyaknya pemain yang cedera memaksanya merotasi pemain ke posisi yang bukan posisi aslinya. Keputusan itu ternyata berjalan baik karena pemain mampu menjalankan peran baru yang diberikan kepadanya.

Keputusan penting lainnya terjadi pada menit-menit akhir pertandingan ketika skor masih imbang 1-1. Coach RF mengganti penjaga gawang dengan kiper cadangan yang dinilainya memiliki kelebihan dalam menghadapi tendangan penalti.

Keputusan berani itu berbuah hasil. Persada memenangi adu penalti dengan skor 5-3 dan melangkah menuju sejarah baru sebagai juara Piala Soeratin U-17 Aceh.

Bagi penonton di pinggir lapangan, keputusan seperti itu mungkin terlihat sebagai spekulasi. Namun, bagi seorang pelatih, keputusan lahir dari pengamatan, pertimbangan, keberanian, dan tanggung jawab. Hasilnya memang tidak selalu bisa dipastikan, tetapi keputusan tetap harus diambil pada saat yang tepat.

Di luar lapangan, Coach RF berprofesi sebagai aparatur sipil negara (ASN) di SMA Negeri 3 Abdya. Ia juga seorang ayah dari Zidan Shabir.

Bagi sebagian orang, nama Rahmat Fitra mungkin belum terlalu dikenal. Namun, perjalanan sepak bolanya memperlihatkan sosok yang telah lama berada di lapangan, membina anak-anak muda, menempa pemain, dan menjalani kompetisi dari bawah.

Karena itu, ketika Persada U-17 lolos ke babak delapan besar putaran nasional, kebanggaan tersebut tentu milik banyak pihak: pemain, pelatih, ofisial, manajer, pembina, sponsor, dan seluruh pencinta Persada.

Namun, euforia jangan sampai membuat kita lupa kepada orang-orang yang bekerja di balik layar, jauh sebelum panggung nasional terbuka.

Setelah menjuarai Piala Soeratin U-17 Aceh, Persada kembali mencatat prestasi dengan menjadi juara Zona 1 Sumatra pada putaran nasional dan memastikan tiket ke babak delapan besar. Capaian itu menjadi kebanggaan bagi masyarakat wilayah Barat Selatan Aceh.

Sebelumnya, Tajura FC U-17 yang bermarkas di Stadion Putroe Aloh, Alue Sungai Pinang, juga pernah membawa nama Abdya ke panggung nasional.

Tajura FC menjuarai Piala Soeratin Aceh pada 2021 dan tampil di putaran nasional 2022 dengan diperkuat pemain binaan PPLP Aceh.

Kini, Persada kembali membawa nama Abdya dan Aceh ke tingkat nasional. Babak delapan besar putaran nasional dijadwalkan berlangsung di PSSI Training Centre, Ibu Kota Nusantara, Kalimantan Timur, pada Oktober 2026.

Prestasi ini semestinya tidak berhenti sebagai bahan perayaan sesaat. Jika ingin membangun sepak bola Abdya dalam jangka panjang, investasi tidak boleh hanya diberikan kepada pemain.

Pelatih juga harus mendapat kesempatan untuk meningkatkan kapasitas dan menapaki jenjang kepelatihan yang lebih tinggi.

Karena itu, apresiasi kepada Coach RF sebaiknya tidak berhenti pada ucapan selamat atau bonus atas prestasi. Memberinya kesempatan menempuh pendidikan lisensi B AFC dapat menjadi investasi penting bagi masa depan sepak bola Abdya.

Sebab, membangun pemain hebat membutuhkan pelatih yang terus berkembang. Dan untuk melahirkan generasi pemain berikutnya, Abdya membutuhkan lebih banyak pelatih yang memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kesempatan untuk naik kelas.

Persada telah membuktikan bahwa tim dari Abdya mampu bersaing di panggung nasional. Kini, tantangannya adalah memastikan keberhasilan itu menjadi awal pembinaan yang berkelanjutan, bukan sekadar cerita indah yang selesai ketika turnamen berakhir.

* Penulis pernah menjabat sebagai Ketua Umum FOSSBI Aceh Barat Daya dan
Direktur Teknik Abdya Football Academy.

Harian Aceh Indonesia
BINTANG
‹
›

Berita Terkait

Beri Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *