Catatan Munawardi Ismail, Pegiat Sepak Bola di Aceh
Sepak bola bukan sekadar permainan 90 atau 120 menit. Ia adalah pertarungan melawan waktu, ketakutan, dan keyakinan.
Ada tim yang menang karena kualitasnya lebih baik. Ada yang menang karena momentum berpihak kepadanya. Ada pula yang beruntung karena satu keputusan wasit atau satu pantulan bola.
Namun Belgia tampaknya memiliki cara yang berbeda untuk menang. Mereka menang karena menolak menyerah. Dan mungkin, di situlah identitas sejati sepak bola Belgia lahir.
Jika Brasil dikenang melalui jogo bonito, Italia lewat catenaccio, Spanyol dengan tiki-taka, serta Jerman melalui efisiensi dan mental juara, maka Belgia perlahan sedang membangun identitas yang sama kuatnya: raja comeback.
Ini bukan sekadar julukan. Melainkan karakter. Ini terjadi di Seattle Stadium, 2 Juli 2026. Belgia tampak tinggal menunggu waktu untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Piala Dunia.
Habib Diarra membawa Senegal unggul pada menit ke-25. Ismaila Sarr menggandakan keunggulan enam menit setelah babak kedua dimulai. Hingga menit ke-85, papan skor masih menunjukkan angka 2-0.
Statistik tidak berpihak kepada Belgia. Logika pun demikian. Di fase gugur Piala Dunia, tertinggal dua gol dengan hanya lima menit tersisa hampir selalu berarti pulang. Namun Belgia tidak percaya pada statistik.
Mereka percaya pada waktu yang masih tersisa.
Romelu Lukaku membuka secercah harapan melalui gol pada menit ke-86. Tiga menit kemudian, Youri Tielemans menanduk bola menjadi gol penyeimbang. Pertandingan berlanjut ke babak tambahan.
Ketika semua orang mulai membayangkan drama adu penalti, VAR menghadirkan satu bab terakhir. Tielemans dijatuhkan di kotak terlarang pada menit 120+5. Sang gelandang maju tanpa keraguan dan menaklukkan penjaga gawang Senegal.
Belgia menang 3-2. Mustahil? Ternyata, bagi Belgia, tidak. Pasalnya, hal yang sama juga sudah mereka lakukan sebelumnya. Delapan tahun lalu.
Ini yang membuat kemenangan itu terasa begitu istimewa bukan sekadar dramanya. Melainkan karena dunia pernah menyaksikan kisah yang hampir identik.
Tanggalnya bahkan nyaris sama. 1 Juli 2018. Beda satu hari. Tapi bulan sama. Tahun berbeda dalam kisah dramatik.
Ini terjadi di babak 16 besar Piala Dunia Rusia. Jepang mengejutkan dunia ketika Genki Haraguchi mencetak gol pada menit ke-48, disusul Takashi Inui empat menit kemudian. Belgia tertinggal 0-2.
Banyak media internasional mulai menyiapkan berita tentang gugurnya Generasi Emas Belgia. Namun sejarah memilih akhir cerita yang berbeda. Jan Vertonghen memperkecil skor pada menit ke-69.
Marouane Fellaini menyamakan kedudukan lima menit kemudian. Lalu, tepat ketika pertandingan tampak akan memasuki babak tambahan, Nacer Chadli menyelesaikan salah satu serangan balik terbaik sepanjang sejarah Piala Dunia pada menit 90+4.
Belgia menang. Skornya sama: 3-2. Lalu, delapan tahun kemudian. Ketertinggalannya sama. Skor akhirnya sama. Yang berubah hanya lawannya. Sulit menyebut dua kejadian itu sebagai kebetulan.
Sebab, comeback memang bukan sesuatu yang asing dalam sepak bola. Namun mengulang pola yang hampir sama, di panggung terbesar dunia, dengan tekanan yang luar biasa besar, menunjukkan adanya sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar keberuntungan.
Itulah yang disebut karakter. Belgia 2026 bukan lagi Belgia yang dibangun Eden Hazard, Vincent Kompany, Marouane Fellaini, atau Axel Witsel. Generasi emas telah berganti.
Romelu Lukaku menjadi sedikit dari pemain yang masih menghubungkan dua era tersebut. Namun ada satu warisan yang tidak ikut pensiun. Mentalitas.
Dalam teori organisasi, budaya yang tetap hidup meski orang-orangnya berganti disebut institutional culture. Dalam sepak bola, Belgia telah berhasil mewariskan budaya itu.
Mereka tidak sekadar mewariskan teknik bermain. Mereka mewariskan keyakinan. Sebagian besar tim akan kehilangan arah ketika tertinggal dua gol. Serangan menjadi tergesa-gesa.
Keputusan berubah emosional. Struktur permainan runtuh. Belgia justru melakukan hal yang sebaliknya. Mereka tetap tenang.
Gol Lukaku lahir bukan karena kepanikan, melainkan kesabaran. Gol penyama Tielemans bukan hasil keberuntungan, melainkan keberanian terus menekan.
Bahkan penalti pada menit 120+5 juga merupakan buah dari tekanan yang tidak pernah berhenti mereka bangun. Belgia memperlakukan waktu bukan sebagai musuh. Mereka menjadikannya sekutu.
Selama peluit akhir belum berbunyi, pertandingan belum selesai.
Friedrich Nietzsche pernah menulis bahwa manusia sanggup menanggung hampir semua penderitaan selama ia masih memiliki alasan untuk berharap. Sepak bola berkali-kali membuktikan kalimat itu.
Harapan tidak selalu hadir ketika keadaan mudah. Justru ia paling berarti ketika peluang tinggal setipis benang.
Belgia memperlihatkan bahwa comeback bukan sekadar perubahan skor. Ia adalah kemenangan atas rasa putus asa.
Dalam konteks itu, dua kemenangan dramatis mereka bukan hanya soal taktik, formasi, atau pergantian pemain. Ia adalah kemenangan mental. Dan mentalitas semacam itu tidak bisa dilatih dalam semalam.
Ia dibangun oleh pengalaman, diwariskan dari generasi ke generasi, hingga akhirnya menjadi identitas.
Memang, FIFA memiliki Golden Ball, Golden Boot, dan Golden Glove. Namun tidak ada penghargaan bagi tim dengan mental paling tangguh. Padahal, bila trofi itu ada, Belgia layak berdiri di barisan terdepan.
Dua kali mereka membalikkan ketertinggalan dua gol pada fase gugur Piala Dunia. Dua kali pula mereka menang dengan skor identik 3-2. Tidak banyak negara yang mampu melakukan itu, apalagi dalam dua edisi berbeda.
Belgia memang belum pernah mengangkat trofi Piala Dunia. Namun sepak bola tidak hanya mengenang juara. Sepak bola juga mengabadikan cerita. Dan Belgia sedang menulis cerita yang berbeda dari negara-negara lain.
Ini bukan tentang dominasi. Bukan pula tentang permainan paling indah. Melainkan tentang keberanian untuk terus percaya ketika semua orang mulai berhenti berharap.
Karena bagi Belgia, tertinggal dua gol bukanlah akhir dari pertandingan. Justru di situlah kisah mereka benar-benar dimulai.
Mungkin itulah sebabnya, jika suatu hari dunia sepak bola mencari siapa Raja Comeback Piala Dunia, jawabannya tidak perlu dicari terlalu jauh. Lihat saja ke Belgia. Sebab mereka telah membuktikannya, bukan sekali, melainkan dua kali.
Mungkini ini akan masuk kamus sepak bola Belgia, tertinggal dua gol bukanlah akhir pertandingan. Itu hanya cara lain untuk memulai sebuah kisah yang kelak akan dikenang dunia.





















Komentar