Oleh Boy Ferdian
ACEH pernah mencatat sejarah besar bagi Indonesia. Di tengah perjuangan mempertahankan identitas Republik setelah Proklamasi Kemerdekaan, rakyat Aceh menunjukkan pengorbanan luar biasa dengan menyumbangkan Seulawah RI 001.
Pesawat itu kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Garuda Indonesia, maskapai kebanggaan bangsa.
Namun, masa itu telah berlalu. Kini yang tersisa hanyalah kebanggaan sejarah. Replika pesawat Seulawah RI 001 berdiri di Lapangan Blang Padang sebagai pengingat bahwa Aceh pernah memberi sesuatu yang sangat berharga bagi negeri ini.
Warisan sejarah itu semestinya mendapat penghargaan yang setimpal dari pemerintah, termasuk dalam bentuk kemudahan akses transportasi udara bagi masyarakat Aceh.
Namun, mari kita tinggalkan sejenak cerita itu. Tarik sebatang rokok, seruput kopi Gayo, lalu berbincang tentang sepak bola Aceh.
Jika berbicara sepak bola Aceh, nama Persiraja tentu menjadi yang pertama terlintas di benak banyak orang. Klub ini pernah menjadi simbol kebanggaan Tanah Rencong sekaligus bagian penting dari perjalanan sepak bola nasional.
Aceh juga pernah memberi kontribusi nyata bagi Tim Nasional Indonesia. Nama-nama seperti Iswadi Idris, Fakhri Husaini, dan Herry Kiswanto tercatat dalam sejarah sebagai pemain asal dan lahir di Aceh yang menjadi pilar Timnas.
Generasi berikutnya melahirkan Ismed Sofyan dan Irwansyah, dua putra Aceh yang melegenda berkat kiprah mereka bersama Timnas Indonesia.
Kemudian hadir generasi emas Zulfiandi, Miftahul Hamdi, dan Hendra Sandi yang pernah bersama Timnas U-19. Setelah generasi itu, talenta Aceh yang kembali menembus level tim nasional praktis hanya menyisakan Rahmat Syawal. Kini pun, nama Rahmat sudah mulai tenggelam.
Kondisi ini tentu memprihatinkan. Bukan hanya dari sisi pemain, tetapi juga pelatih. Hingga kini hampir tidak ada pelatih asal Aceh yang memiliki lisensi kepelatihan level tinggi sehingga mampu bersaing di kompetisi nasional, terutama Liga 2 maupun Liga 1.
Tingginya biaya untuk memperoleh lisensi kepelatihan, ditambah minimnya perhatian Asprov PSSI Aceh terhadap pembinaan, menjadi salah satu penyebab pelatih lokal enggan melanjutkan lisensi ke jenjang yang lebih tinggi. Sebagian besar berhenti di lisensi D dan C saja.
Di tengah kondisi tersebut, nama Akhyar Ilyas menjadi pengecualian. Ia bisa disebut sebagai last standing hero, salah satu pelatih Aceh yang masih konsisten meniti karier di level nasional.
Persoalan ini sebenarnya bukan karena Aceh kekurangan bakat. Potensi pemain dan pelatih tetap ada. Hanya saja, arah pembangunan sepak bola nasional kini lebih banyak bertumpu pada pemain diaspora, sementara banyak klub memilih pelatih dari luar daerah, bahkan luar negeri.
Di sisi lain, kompetisi nasional juga belum memiliki model pembinaan yang konsisten dari tahun ke tahun. Klub-klub lebih sibuk mengejar prestasi instan sehingga memilih pemain yang sudah matang dibanding memberi ruang kepada talenta muda lokal untuk berkembang.
Akibatnya, fungsi klub sebagai tempat mencetak pemain muda semakin memudar. Regenerasi berjalan lambat, sementara kesempatan bagi putra daerah untuk tumbuh di level profesional semakin sempit.
Sebagai pencinta sepak bola, tentu kita berharap keadaan ini berubah. Aceh harus kembali menjadi salah satu lumbung talenta nasional.
Pemain-pemain Aceh harus kembali menghiasi Timnas Indonesia, sementara klub-klub kebanggaan daerah memberi ruang lebih besar bagi putra daerah, setidaknya dengan komposisi sekitar 70 persen pemain lokal.
Jangan sampai sepak bola Aceh bernasib seperti Seulawah RI 001: hanya menjadi simbol kejayaan masa lalu yang dikenang, tetapi kehilangan peran pentingnya bagi masa depan negeri. []




















Komentar