Oleh Boy Ferdian
Piala Dunia FIFA 2026 sejauh ini menghadirkan satu fenomena menarik: kebangkitan Asia. Dalam matchday awal fase grup yang melibatkan 48 negara, wakil-wakil Asia (AFC) tampil mengejutkan.
Tidak satu pun dari mereka menelan kekalahan saat menghadapi lawan-lawan kuat, termasuk tim-tim yang selama ini menjadi langganan unggulan dari Eropa dan Amerika Selatan.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa peta kekuatan sepak bola dunia semakin merata. Jurang kualitas yang dahulu begitu lebar kini perlahan mulai menyempit.
Negara-negara Asia tak lagi datang ke Piala Dunia sekadar sebagai pelengkap, melainkan sebagai pesaing yang mampu memberikan perlawanan serius.
Di antara para wakil Asia, Jepang kembali tampil sebagai simbol kemajuan sepak bola benua kuning. Tim berjuluk Samurai Biru itu memperlihatkan bahwa mereka bukan sekadar peserta reguler Piala Dunia, melainkan kekuatan yang layak diperhitungkan dalam perburuan gelar.
Tergabung di Grup F bersama Belanda, Swedia, dan Tunisia, Jepang tampil meyakinkan di bawah arahan Hajime Moriyasu.
Setelah bermain imbang 2-2 melawan Belanda pada laga pembuka, Jepang mengamuk dengan membantai Tunisia 4-0. Kemenangan tersebut tidak hanya memperbesar peluang lolos ke fase gugur, tetapi juga tercatat sebagai salah satu hasil paling mencolok yang diraih wakil Asia pada turnamen ini.
Lebih dari sekadar kemenangan, Jepang memperlihatkan identitas permainan yang matang. Mereka mampu bertahan dengan disiplin, melakukan transisi cepat, dan menyerang dengan efektivitas tinggi.
Filosofi sepak bola modern yang selama bertahun-tahun dibangun federasi Jepang kini mulai menunjukkan hasil yang semakin nyata.
Ambisi Jepang kali ini juga jauh lebih besar. Mereka tidak ingin lagi berhenti di babak 16 besar, fase yang selama ini menjadi batas tertinggi pencapaian mereka pada edisi 2002, 2010, 2018, dan 2022. Pengalaman pahit tersingkir di fase gugur menjadi motivasi untuk melangkah lebih jauh.
Modal mereka sangat kuat. Sebagian besar pemain inti saat ini berkarier di liga-liga top Eropa, mulai dari Inggris, Jerman, Spanyol, Italia hingga Prancis.
Pengalaman bermain di level tertinggi membuat para pemain Jepang tampil tanpa rasa inferior saat menghadapi tim-tim besar.
Selain itu, Moriyasu dikenal memiliki fleksibilitas taktik yang tinggi. Jepang bisa bermain dengan penguasaan bola, tetapi juga mampu berubah menjadi tim yang sangat efektif dalam serangan balik.
Kemampuan beradaptasi inilah yang membuat mereka berbahaya bagi siapa pun lawannya.
Karena itu, tidak mengherankan jika banyak pengamat mulai menempatkan Jepang sebagai salah satu kuda hitam utama Piala Dunia 2026.
Bahkan, dibandingkan wakil Asia lainnya seperti Korea Selatan dan Arab Saudi, Jepang dianggap memiliki peluang paling besar untuk menciptakan kejutan di fase gugur.
Tentu saja jalan menuju tangga juara masih sangat panjang. Argentina, Spanyol, dan Prancis tetap berada di barisan terdepan sebagai kandidat kuat peraih trofi.
Ketiga negara tersebut memiliki kedalaman skuad, pengalaman, dan kualitas individu yang masih berada di atas mayoritas peserta lainnya.
Namun sejarah Piala Dunia selalu menyisakan ruang bagi kejutan. Tidak ada yang menyangka Kroasia mampu mencapai final pada 2018.
Tidak banyak yang memprediksi Maroko menembus semifinal pada 2022. Mengapa kali ini kejutan itu tidak datang dari Asia?
Mungkin masih terlalu dini untuk berbicara tentang gelar juara dunia bagi Jepang. Namun satu hal yang pasti, Samurai Biru telah menunjukkan bahwa mereka bukan lagi tim yang sekadar berharap lolos dari fase grup.
Mereka datang dengan ambisi yang lebih besar: menantang dominasi kekuatan tradisional sepak bola dunia.
Jadi, siapkan secangkir kopi dan sepiring kacang. Mari menikmati perhelatan empat tahunan ini sambil menunggu apakah Jepang mampu menulis sejarah baru.
Sebab, siapa tahu, untuk pertama kalinya dunia akan menyaksikan sebuah negara Asia berdiri di puncak sepak bola dunia. []





















Komentar