Oleh Boy Ferdian
JIKA Anda sempat membaca ulasan saya pada 4 Juli 2026 lalu berjudul “Menakar Final Eropa vs Amerika Latin”, kini prediksi itu benar-benar menjadi kenyataan. Final Piala Dunia 2026 akhirnya mempertemukan dua kiblat sepak bola dunia: Spanyol dan Argentina.
Dua negara dengan filosofi berbeda, tetapi sama-sama menawarkan sepak bola kelas dunia.
Spanyol datang dengan skuad muda yang rata-rata berusia sekitar 26 tahun. Tim besutan Luis de la Fuente tampil memikat sepanjang turnamen, termasuk saat menyingkirkan Prancis 2-0 di semifinal. Padahal, Les Bleus datang dengan materi pemain yang tak kalah bertabur bintang.
Menariknya, meski berasal dari Eropa, gaya bermain Spanyol selama bertahun-tahun justru lebih dekat dengan cita rasa Amerika Latin. Mereka mengandalkan penguasaan bola, umpan-umpan pendek, kreativitas, serta permainan kolektif yang indah dipandang.
Kita tentu masih ingat era keemasan tiki-taka, ketika Xavi Hernandez, Andres Iniesta, dan Sergio Busquets menjadi trio yang menghidupkan filosofi tersebut. Bahkan pada masa itu, Spanyol terasa lebih “Latin” dibanding sejumlah negara Amerika Latin sendiri, termasuk Brasil maupun Argentina.
Warisan filosofi itu tampaknya masih menjadi fondasi Luis de la Fuente dalam membentuk generasi baru La Roja. Memang, saat ini mereka tidak memiliki sosok sekelas Xavi atau Iniesta. Namun justru di situlah letak kekuatan Spanyol sekarang.
Mereka tidak bergantung pada satu bintang. Hampir semua pemain mampu menjalankan perannya dengan disiplin, saling mengisi, dan bermain sebagai sebuah sistem yang utuh.
Laga semifinal menjadi bukti nyata. Kylian Mbappe dan Michael Olise benar-benar dibuat tidak berkutik. Mereka terisolasi oleh rapatnya organisasi permainan Spanyol yang menguasai lini tengah sekaligus menutup ruang transisi Prancis.
Lalu bagaimana dengan Argentina?
Rasanya tidak banyak yang perlu dibahas lagi. Mereka tetaplah tim dengan mental juara yang luar biasa. Terlepas dari segala kontroversi yang kerap mengiringi perjalanan mereka, Albiceleste tetap menjadi tim yang sangat berkarakter.
Pertandingan semifinal melawan Inggris kembali menunjukkan identitas itu. Argentina selalu memiliki kemampuan untuk bangkit ketika berada dalam tekanan.
Bahkan dalam tiga pertandingan terakhir, mereka beberapa kali tertinggal lebih dahulu, tetapi selalu berhasil membalikkan keadaan dan keluar sebagai pemenang. Itu sudah cukup menjelaskan siapa mereka sebenarnya.
Kini, panggung terakhir telah tiba.
Spanyol akan menguji permainan kolektif terbaiknya melawan mental juara Argentina yang dipimpin Lionel Messi dan dihuni para pemain yang sangat memahami karakter sepak bola Spanyol, termasuk Julian Alvarez.
Karena itu, mari kita nikmati saja final nanti tanpa terlalu banyak berdebat soal siapa yang lebih pantas menang.
Semoga laga Eropa vs Amerika Latin Jilid II benar-benar berlangsung fair, berkualitas, dan menghibur.
Dan… siapa tahu, Spanyol mampu melahirkan juara dunia baru untuk kedua kalinya.
Salam perkopian!





















Komentar