Oleh Bung Alkaf*
MESSI berjalan, memantau gerak bola, dan menggaruk janggut, lalu, mencetak tiga gol. Begitulah yang terlihat selama tujuh puluh menit saat Argentina melawan Aljazair.
Pertandingan pertama juara bertahan itu menjadi pertunjukan Messi yang belum mau berhenti. Baginya, gol demi golnya ke gawang Luca Zidane seperti gol pertamanya saat melawan Yugoslavia di Jarnan, tahun 2006.
Pada gelaran Piala Dunia tersebut, Messi melakukan debutnya. Dia menjadi pemain pengganti. Sejak awal, José Pékerman, pelatih Timnas Argentina kala itu, sudah merencanakan Piala Dunia pertamanya sebagai proses pendewasaan diri.
Di tim Argentina saat itu, para monster sudah terlebih dahulu hadir, Crespo, Saviola, Tevez, dan Riquelme. Dalam komposisi demikian, Messi ditempatkan untuk penempaan dirinya, yang mulai dibayangkan akan menjadi Maradona berikutnya.
Pembacaan Pékerman terhadap peran Messi tepat. Dia tidak ingin pemuda itu tumbuh dengan beban besar di pundaknya. Pékerman ingin melihat Messi perlahan demi perlahan berkembang.
Atas alasan itulah, dia memilih meninggalkan Messi di bangku cadangan pada pertandingan babak perempat final melawan Jerman. Satu keputusan yang tidak dia sesali.
Pékerman merupakan pelatih yang cakap membaca pemain muda. Bukan kali pertama dia melihat pesepak bola Argentina yang berbakat.
Dari tangannya, Argentina mendominasi kejuaran Piala Dunia Junior dengan melahirkan deretan pesepak bola hebat lainnya, seperti Riquelme, Saviola, Cambiasso, Lionel Scaloni, dan Pablo Aimar. Dua nama terakhir yang membuat jalan sejarah Messi di Argentina berbeda untuk selamanya.
Setelah Piala Dunia tahun 2006, Messi menjadi harapan Argentina. Di kakinya, keinginan untuk kembali juara dunia dilabuhkan.
Messi menerima itu tanpa memedulikan apakah dirinya sanggup. Lalu, satu per satu kegagalan demi kegagalan menghampiri dirinya setiap kali mengenakan jersey timnas. Hal yang berkebalikan ketika dia menggunakan kostum Barcelona.
Publik Argentina berang. Messi dianggap tidak sepenuh hati ketika berjibaku untuk negaranya. Messi lalu patah arang. Dia meninggalkan timnas setelah gagal di Copa America 2016 dan Piala Dunia 2018. Timnas Argentina tidak ditakdirkan untuknya.
Rasa duka itu terus menyelimuti batin Messi. Walau tumbuh di Spanyol, hatinya untuk Argentina. Dalam satu waktu, dia pernah mengungkapkan rela menukar segala capaian personalnya demi satu trofi Piala Dunia.
Keinginan yang kemudian tiba ketika murid José Pékerman, Scaloni, didapuk menjadi pelatih kepala Timnas Sepak Bola Argentina. Langkah pertama yang dilakukannya adalah memanggil pulang Messi ke timnas.
Tugas itu diemban oleh Pablo Aimar, idola Messi. Dapat dikatakan, Messi bagi Scaloni, seperti Maradona untuk Bilardo, sedangkan Aimar bagi Messi, seperti Bochini untuk Maradona.
Tanpa Scaloni dan Aimar, kita tidak pernah menyaksikan Messi yang bahagia ketika mengenakan jersey timnas. Segala penderitaannya sebelumnya, berganti dengan keceriaan.
Lihatlah Messi per hari ini di Amerika Serikat. Dia berada di lapangan seperti rutinitas bapak-bapak di sore hari bermain sepak bola.
Datang dan melihat, lalu diberi umpan, kemudian mencetak gol, setelahnya merayakan. Hanya begitu, tidak lebih, seperti yang diperlihatkan saat melawan Al Jazair.
Namun, apa yang saat ini disaksikan bukan jatuh dari langit. Messi memperjuangkan itu dengan segenap tenaganya. Gol Messi tersebut, bahkan mungkin akan bertambah, adalah cerita dari jatuh bangunnya dia dalam sepak bola.
Apa yang telah Messi tunjukkan telah membuatnya akan dikenang sepanjang hayat. Lalu, bagi kita yang menyaksikannya, akan bersyukur bahwa pernah melihat salah satu pesepak bola terbaik sepanjang sejarah.
* Penulis adalah esais





















Komentar