ACEHFOOTBALL.net — Piala Dunia 2026 memang telah berakhir, tetapi perhatian dunia sepak bola kini mulai mengarah ke edisi 2030 yang akan menjadi perhelatan spesial dalam rangka 100 tahun Piala Dunia FIFA.
Di balik kemeriahan turnamen 48 tim pertama tersebut, masih ada sejumlah negara besar yang gagal lolos ke putaran final dan kini bertekad bangkit pada edisi berikutnya.
FIFA menyoroti sedikitnya 10 negara dengan sejarah kuat di Piala Dunia yang diyakini akan berjuang keras mengakhiri masa paceklik dan kembali tampil di panggung sepak bola terbesar dunia.
Italia Ingin Akhiri Mimpi Buruk
Italia menjadi sorotan utama. Juara dunia empat kali itu kembali gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun, sebuah catatan terburuk dalam sejarah mereka.
Gli Azzurri terakhir tampil di Piala Dunia 2014 di Brasil sebelum tersingkir pada fase grup. Pada kualifikasi 2026, Italia finis di belakang Norwegia dan kemudian kalah dramatis dari Bosnia dan Herzegovina melalui adu penalti pada babak play-off.
FIFA menilai Italia masih memiliki banyak pemain berkualitas dan berharap mampu mengakhiri kutukan tersebut menuju Piala Dunia 2030.
Denmark Nyaris Lolos
Denmark juga masuk dalam daftar negara yang diprediksi bangkit. Juara Piala Eropa 1992 itu gagal mengamankan tiket langsung setelah kalah dari Skotlandia pada laga terakhir grup, kemudian kembali tersingkir melalui adu penalti melawan Ceko di final play-off.
Dengan skuad yang dinilai masih kompetitif, Denmark diperkirakan tetap menjadi kekuatan Eropa pada kualifikasi berikutnya.
Polandia Bersiap Era Baru
Polandia, yang pernah meraih peringkat ketiga dunia pada 1974 dan 1982, juga diprediksi melakukan regenerasi besar-besaran.
Kegagalan lolos ke Piala Dunia 2026 sekaligus menandai berakhirnya era Robert Lewandowski sebagai pusat permainan. FIFA menyebut Polandia kini memiliki banyak talenta muda yang siap menjadi fondasi baru menuju 2030.
Hungaria Ingin Akhiri Penantian 44 Tahun
Hungaria menjadi negara dengan masa absen terlama dalam daftar tersebut. Finalis Piala Dunia 1938 dan 1954 itu belum pernah tampil lagi sejak Piala Dunia 1986.
Meski gagal lolos ke edisi 2026 akibat kekalahan dramatis dari Republik Irlandia, FIFA menilai perkembangan mereka di level Eropa menjadi modal penting untuk kembali bersaing.
Romania Bangkit Bersama Hagi
Romania juga berharap mengakhiri penantian panjang. Negara yang mencapai perempat final Piala Dunia 1994 itu gagal lolos setelah dikalahkan Turki pada babak play-off.
Legenda Gheorghe Hagi yang kembali menangani tim nasional diharapkan mampu membawa generasi baru Romania kembali ke panggung dunia.
Nigeria dan Kamerun Andalkan Talenta Afrika
Dua raksasa Afrika, Nigeria dan Kamerun, sama-sama gagal menembus putaran final 2026.
Nigeria kalah adu penalti dari Republik Demokratik Kongo, sementara Kamerun tersingkir setelah kalah 0-1 dari lawan yang sama pada babak play-off.
FIFA menilai kedua negara tidak pernah kekurangan pemain berbakat. Tantangan terbesar mereka adalah membangun stabilitas organisasi dan konsistensi performa.
Chile Terpuruk
Chile menghadapi situasi paling berat di Amerika Selatan. Juara Copa America dua kali itu bahkan finis di dasar klasemen kualifikasi CONMEBOL dengan hanya dua kemenangan dari 18 pertandingan.
Setelah absen pada tiga Piala Dunia terakhir, La Roja berharap regenerasi skuad mampu mengangkat kembali prestasi mereka.
Peru dan Kosta Rika Berbenah
Peru yang pernah tampil impresif pada era 1970-an kini harus membangun ulang lini serang setelah hanya mencetak enam gol sepanjang kualifikasi 2026.
Sementara itu, Kosta Rika juga gagal lolos setelah bermain imbang tanpa gol melawan Honduras pada laga penentu.
Negara Amerika Tengah tersebut kini mulai memberi kepercayaan kepada generasi muda demi menjaga tradisi tampil di Piala Dunia.
Dengan status sebagai edisi peringatan 100 tahun Piala Dunia, turnamen 2030 dipastikan menjadi target utama negara-negara yang memiliki sejarah besar tetapi gagal tampil di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko tahun ini.
Mereka kini berpacu membangun kembali kekuatan demi mengembalikan kejayaan di panggung sepak bola dunia.



















Komentar