ACEHFOOTBALL.net – Maroko kembali menunjukkan bahwa keberhasilan menembus semifinal Piala Dunia 2022 bukanlah kebetulan.
Tim berjuluk Atlas Lions itu membuka kiprahnya di Piala Dunia 2026 dengan menahan Brasil 1-1 pada laga Grup C di New York New Jersey Stadium, Sabtu (13/6/2026) waktu setempat.
Pelatih Maroko, Mohamed Ouahbi, menilai hasil tersebut menjadi bukti bahwa timnya masih mampu bersaing dengan kekuatan-kekuatan besar dunia dan bahkan berpeluang melangkah lebih jauh dibanding pencapaian bersejarah mereka di Qatar empat tahun lalu.
“Kami tetap berpegang pada prinsip permainan kami. Kami harus memainkan sepak bola kami sendiri dan melakukannya dengan baik. Tentu akan lebih menyenangkan jika menang, tetapi saya tidak kecewa dengan hasil ini,” kata Ouahbi usai pertandingan.
Pelatih yang menggantikan Walid Regragui pada Maret lalu itu bahkan menyatakan ambisinya melebihi capaian semifinal yang pernah diraih Maroko pada 2022.
“Jika ditawari kembali mencapai semifinal seperti tahun 2022, saya akan mengatakan ingin melangkah lebih jauh. Kami memainkan pertandingan yang bagus. Memang akan lebih baik jika mendapatkan tiga poin, tetapi satu poin ini tetap penting dan kami akan fokus ke laga berikutnya,” ujarnya.
Meski Brasil lebih diunggulkan dan didukung mayoritas suporter di stadion, jalannya pertandingan justru memperlihatkan keberanian Maroko menghadapi salah satu raksasa sepak bola dunia itu.
Sejak menit awal, Atlas Lions tampil agresif, disiplin dalam bertahan, serta berbahaya melalui serangan balik cepat.
Penampilan tersebut mengingatkan publik pada Maroko yang mengejutkan dunia dengan menyingkirkan Belgia, Spanyol, dan Portugal dalam perjalanan menuju semifinal Piala Dunia 2022.
Ouahbi dinilai berhasil membawa perkembangan baru dalam permainan timnya. Selain tetap mengandalkan organisasi permainan yang solid, Maroko kini tampil lebih matang dalam penguasaan bola dan transisi menyerang.
Pelatih Brasil, Carlo Ancelotti, mengakui timnya mengalami kesulitan menghadapi permainan Maroko, terutama pada babak pertama.
“Saya merasa kami memulai pertandingan dengan buruk dan itu menjadi perhatian bagi saya. Kami kalah dalam banyak duel dan tidak mampu menguasai bola dengan baik. Namun kami tampil lebih baik pada babak kedua,” kata Ancelotti.
Menurut pelatih asal Italia itu, Maroko merupakan lawan yang sangat kuat dan mampu merepotkan Brasil sepanjang pertandingan.
“Ini pertandingan yang sulit dan Maroko adalah tim yang kuat,” ujarnya.
Salah satu sorotan dalam pertandingan tersebut adalah penampilan gelandang muda Maroko, Ayyoub Bouaddi. Pemain Lille berusia 18 tahun itu tampil impresif di lini tengah meski baru memulai karier internasionalnya kurang dari sebulan lalu.
Selain Bouaddi, Samir El Mourabet yang masuk sebagai pemain pengganti juga memberikan energi baru bagi permainan Maroko pada 30 menit terakhir.
“Ini pertandingan yang sangat emosional. Bermain di Piala Dunia adalah impian saya sejak kecil. Namun ketika sudah berada di lapangan, kami harus tetap fokus dan memberikan yang terbaik,” kata El Mourabet kepada beIN Sports.
Ia menilai Maroko sebenarnya memiliki peluang untuk mencetak lebih banyak gol dan hal tersebut menjadi bahan evaluasi untuk pertandingan berikutnya.
“Kami tahu sebenarnya bisa mencetak lebih banyak gol. Itu menjadi pelajaran yang harus kami perbaiki pada laga selanjutnya,” ujarnya.
Ouahbi pun memberikan pujian kepada sejumlah pemain mudanya. Selain Bouaddi dan El Mourabet, ia menyoroti penampilan Neil El Aynaoui serta Azzedine Ounahi yang tampil dominan pada babak pertama.
Menurutnya, regenerasi sepak bola Maroko berjalan sangat baik. Bahkan masih ada sejumlah pemain dari tim juara Piala Dunia U-20 yang belum masuk skuad utama kali ini.
“Masa depan sepak bola Maroko berada di tangan yang sangat tepat,” kata Ouahbi.
Di tengah munculnya generasi baru, pemain-pemain berpengalaman seperti Yassine Bounou, Achraf Hakimi, Noussair Mazraoui, dan Azzedine Ounahi tetap menjadi tulang punggung tim, melanjutkan estafet yang sebelumnya dipegang Sofiane Boufal, Romain Saiss, dan Hakim Ziyech.
Hasil imbang melawan Brasil menjadi pesan kuat bahwa Maroko belum kehilangan daya saingnya di level tertinggi.
Empat tahun setelah mencatat sejarah di Qatar, Atlas Lions kembali membuktikan diri sebagai salah satu tim yang mampu mengganggu dominasi negara-negara elite di panggung sepak bola terbesar dunia.





















Komentar