ACEHFOOTBALL.net — Laga perempat final Piala Dunia FIFA 2026 antara Belgia dan Spanyol bukan sekadar mempertemukan dua tim elite Eropa.
Pertandingan yang akan digelar di Los Angeles itu juga menjadi panggung emosional bagi Thibaut Courtois, penjaga gawang Belgia yang telah menghabiskan sebagian besar karier profesionalnya di kompetisi sepak bola Spanyol.
Bagi Courtois, duel melawan La Roja menghadirkan makna tersendiri. Belgia adalah negara yang membesarkan namanya, sementara Spanyol menjadi tempat ia berkembang menjadi salah satu kiper terbaik dunia.
Perjalanan Courtois di Spanyol dimulai pada 2011 ketika Chelsea merekrutnya dari Genk, lalu langsung meminjamkannya ke Atletico Madrid.
Mantan pelatih Atletico Madrid, Gregorio Manzano, mengaku langsung melihat potensi besar dalam diri kiper muda asal Belgia tersebut.
“Kami mencari penjaga gawang muda yang memiliki potensi besar dan Courtois langsung menarik perhatian. Ia memiliki postur yang dominan, sangat lincah, dan refleksnya luar biasa meski bertubuh tinggi,” ujar Manzano.
Debut Courtois bersama Atletico terjadi dalam kemenangan 4-0 atas Vitoria Guimaraes di babak kualifikasi Liga Europa.
Namun salah satu penampilan yang paling diingat Manzano adalah ketika Courtois melakukan penyelamatan krusial saat menghadapi Celtic di fase grup.
Atletico akhirnya menjuarai Liga Europa musim itu dengan Courtois sebagai salah satu pemain kunci di bawah mistar gawang.
Mental Juara Jadi Pembeda
Pada musim pertamanya di Atletico Madrid, Courtois tampil dalam 52 pertandingan dan mencatatkan lebih dari 4.600 menit bermain.
Meski demikian, Manzano mengakui masih ada beberapa aspek permainan yang harus diperbaiki, terutama dalam duel udara, situasi satu lawan satu, serta distribusi bola menggunakan kaki.
Namun, menurutnya, kualitas mental Courtois menjadi pembeda.
“Dia selalu berpikir bisa menjadi lebih baik. Mentalitasnya adalah mentalitas seorang juara. Banyak pemain memiliki kemampuan fisik, tetapi tanpa kekuatan mental mereka tidak akan bertahan di level tertinggi. Courtois berhasil menggabungkan keduanya,” katanya.
Di luar lapangan, Manzano menggambarkan Courtois sebagai sosok sederhana yang tidak banyak bicara dan fokus terhadap pekerjaannya.
Courtois pernah mengungkapkan bahwa kemampuan refleksnya berasal dari olahraga bola voli.
Kedua orang tuanya merupakan pemain voli dan rumah keluarganya bahkan memiliki lapangan voli sendiri.
“Saya bermain voli sejak kecil seperti kedua orang tua saya. Saat bergabung dengan akademi Genk pada usia tujuh tahun saya awalnya bermain sebagai bek kiri.”
“Karena terbiasa bermain voli, saya memiliki refleks yang baik untuk menjatuhkan diri dan melakukan penyelamatan. Dari situlah saya mulai menjadi penjaga gawang,” ungkap Courtois.
Selama memperkuat Atletico Madrid, Courtois membantu klub itu meraih berbagai prestasi bergengsi.
Ia ikut membawa Atletico menjuarai Liga Europa, Piala Super UEFA, Copa del Rey, hingga La Liga musim 2013/2014.
Ia juga menjadi kiper termuda yang pernah memenangkan Trofi Zamora, penghargaan bagi penjaga gawang dengan rasio kebobolan terbaik di La Liga, sebelum mempertahankan gelar tersebut pada musim berikutnya.
Mantan rekan setimnya di Atletico, Dani Aranzubia, mengaku belum pernah melihat penjaga gawang dengan kombinasi tinggi badan dan kelincahan seperti Courtois.
“Saya pernah bermain bersama banyak kiper, tetapi belum pernah melihat penjaga gawang setinggi dia yang juga secepat itu. Dia menutup ruang tembak dengan sangat baik dan memiliki kemampuan luar biasa,” ujar Aranzubia.
Pada musim 2013/2014, Atletico juga memiliki kiper muda asal Maroko Yassine Bounou (Bono) yang kini menjadi andalan Timnas Maroko.
Menurut Aranzubia, saat itu Courtois sudah menjadi penjaga gawang utama, sementara Bono masih belajar dan mulai menunjukkan potensinya.
“Kini mereka berdua menjadi dua penjaga gawang terbaik di dunia,” katanya.
Setelah kembali ke Chelsea pada 2014, Courtois bergabung dengan Real Madrid pada 2018 usai membawa Belgia finis di peringkat ketiga Piala Dunia Rusia.
Sejak saat itu, ia semakin mengukuhkan statusnya sebagai salah satu penjaga gawang terbaik dunia.
Ujian Berat
Courtois kini telah mencatatkan lebih dari 330 penampilan bersama Real Madrid, jauh melampaui jumlah laga yang ia mainkan bersama Atletico maupun Chelsea.
Bersama tim nasional Belgia, ia telah tampil lebih dari 110 pertandingan dan menjadi pilihan utama di bawah mistar dalam empat edisi Piala Dunia.
Koleksi gelarnya pun sangat lengkap, mulai dari dua trofi Liga Champions, dua gelar Liga Inggris, hingga empat gelar La Liga.
Kini Courtois kembali menjadi tumpuan Belgia saat menghadapi Spanyol di babak perempat final Piala Dunia 2026.
Pengalamannya selama lebih dari satu dekade di kompetisi Spanyol diyakini menjadi modal penting bagi The Red Devils untuk meredam permainan La Roja yang hingga kini belum kebobolan sepanjang turnamen.
Laga di Los Angeles pun menjadi lebih dari sekadar perebutan tiket semifinal. Bagi Courtois, pertandingan ini adalah pertemuan antara negara yang melahirkannya sebagai pesepak bola dan negara yang membentuknya menjadi penjaga gawang kelas dunia. []
Sumber: Fifa





















Komentar