ACEHFOOTBALL.net – Arsenal gagal menuntaskan ambisi menjuarai Liga Champions usai kalah dramatis dari Paris Saint-Germain (PSG) melalui adu penalti pada final di Budapest, Sabtu (30/5/2026).
Kekalahan itu memunculkan pertanyaan besar soal gaya bermain tim asuhan Mikel Arteta, meski The Gunners baru saja menutup musim dengan gelar Liga Inggris pertama mereka dalam 22 tahun.
Arsenal sempat unggul cepat lewat Kai Havertz, namun PSG mendominasi permainan sepanjang laga. Klub Prancis itu mencatatkan lebih dari 75 persen penguasaan bola dan melepaskan 885 umpan, sementara Arsenal hanya mampu membukukan sekitar 285 umpan selama 120 menit pertandingan.
Pelatih Arsenal, Mikel Arteta, bahkan menyebut PSG sebagai “tim terbaik di dunia” saat ini. Menurutnya, kualitas individu dan kemampuan PSG menguasai bola memaksa Arsenal bermain di luar rencana mereka.
“Apa yang mereka lakukan dengan bola, terutama lewat aksi individu pemainnya, jarang saya lihat. Mereka memaksa Anda bermain seperti itu,” ujar Arteta.
Mantan bek Arsenal sekaligus juara Liga Inggris, Matthew Upson, menilai Arsenal terlalu cepat masuk ke mode bertahan setelah unggul lebih dulu melalui Havertz.
“Begitu mencetak gol, Arsenal secara alami bermain lebih protektif. PSG lalu mengambil alih permainan. Statistik penguasaan bola 75-25 persen dalam final Liga Champions sangat luar biasa,” kata Upson kepada BBC Sport.
Sepanjang musim, Arsenal memang menuai kritik terkait gaya bermain mereka yang dinilai terlalu pragmatis, mengandalkan bola mati, dan kurang kreatif dalam permainan terbuka.
Meski berhasil menjuarai Premier League dengan selisih tujuh poin dari Manchester City, banyak kemenangan Arsenal diraih dengan margin tipis.
Upson menilai perubahan pendekatan Arteta mulai terlihat sejak Januari lalu. Arsenal yang sempat tampil atraktif pada awal musim perlahan beralih ke pendekatan lebih konservatif ketika tekanan perebutan gelar meningkat.
“Periode Agustus hingga Desember menunjukkan Arsenal yang berbeda, lebih berbasis penguasaan bola dan menarik ditonton. Namun, ketika tekanan meningkat, mereka kembali ke formula yang lebih aman,” ujarnya.
Kini, tantangan berikutnya bagi Arteta adalah menentukan arah evolusi permainan Arsenal. Sejak mengambil alih kursi pelatih pada 2019, ia telah menghabiskan lebih dari 900 juta poundsterling untuk belanja pemain, tetapi lini depan Arsenal masih dianggap belum cukup tajam untuk level tertinggi Eropa.
Meski Viktor Gyokeres mencetak 21 gol musim ini, Arsenal disebut masih memantau striker Atletico Madrid, Julian Alvarez, serta berencana memperkuat sektor sayap kiri.
Arteta pun mengisyaratkan musim panas ini akan menjadi periode penting bagi Arsenal.
“Kami harus menjadi lebih baik, berkembang, dan menemukan cara berbeda untuk mendapatkan hasil yang kami inginkan,” katanya.
Arsenal memang sukses menyingkirkan Atletico Madrid, Bayern Munich, dan Inter Milan menuju final. Namun, bagi Upson, jika ingin benar-benar mengakhiri puasa gelar Liga Champions, The Gunners harus berani berubah.
“Di Liga Champions Anda akan selalu berhadapan dengan tim seperti PSG, Bayern, Barcelona, atau Manchester City. Sulit memenangkan turnamen jika Anda tidak mampu lebih banyak menguasai bola,” pungkasnya.





















Komentar