Bola Aceh

Plt Ketua PSSI Aceh Didesak Segera Gelar Kongres Definitif

ACEHFOOTBALL.net — Ketidakjelasan kepemimpinan Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Aceh mulai mengancam keberlangsungan pembinaan dan kompetisi sepak bola di Tanah Rencong.

Pelaksana Tugas (Plt) Ketua PSSI Aceh, Mayjen TNI (Purn) Rudi Yulianto, didesak segera mengambil langkah konkret dengan menyusun tahapan Kongres Luar Biasa (KLB) untuk melahirkan kepengurusan definitif.

Desakan tersebut disampaikan mantan anggota Komite Eksekutif (Exco) sekaligus mantan calon Ketua Asprov PSSI Aceh 2026-2030, Muslim MS, SE, CPLA.

Ia menilai, sejak menerima mandat dari PSSI Pusat, Rudi belum menunjukkan langkah nyata untuk membenahi organisasi dan menyelesaikan persoalan kepemimpinan sepak bola Aceh.

“Hingga kini belum ada pergerakan apa pun di lapangan. Bahkan, Rudi Yulianto selaku Plt belum pernah berkantor ataupun sekadar berkunjung ke Aceh untuk meninjau kondisi riil organisasi di sini,” ujar pria yang akrab disapa Keuchik Muslem kepada awak media, Kamis (5/11/2026).

Menurut Muslem, kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Aceh membutuhkan kepengurusan definitif yang memiliki legitimasi organisasi dan dapat bekerja secara penuh untuk memastikan program pembinaan serta agenda kompetisi berjalan sebagaimana mestinya.

Ia mengingatkan, sejumlah agenda penting sepak bola Aceh sudah menanti, mulai dari penyelenggaraan Liga 4 musim 2026/2027, persiapan Pekan Olahraga Aceh (PORA), hingga konsolidasi menghadapi Pekan Olahraga Wilayah (Porwil) hingga Piala Soeratin.

Dikatakan, tanpa kepastian kepemimpinan, koordinasi dengan pemerintah daerah, klub, dan pemangku kepentingan sepak bola dikhawatirkan tidak berjalan optimal. Dampaknya, pembinaan pemain dan persiapan menghadapi kompetisi berpotensi terbengkalai.

“Langkah utama yang harus dilakukan Plt saat ini adalah bersinergi dengan lembaga terkait di Aceh. Setelah itu, segera siapkan tahapan-tahapan kongres agar tugas utama Plt bisa tuntas dan melahirkan ketua terpilih sesuai dengan mekanisme organisasi,” tegasnya.

Muslem menegaskan, desakan tersebut bukan didorong ambisi pribadi untuk kembali bersaing dalam pencalonan ketua pada kongres mendatang. Ia mengaku lebih mengutamakan kepastian masa depan organisasi dan keberlangsungan sepak bola Aceh.

“Ini semata-mata demi menentukan nasib dan masa depan sepak bola Aceh ke depan, bukan hal lain,” katanya.

Persoalan kepemimpinan Asprov PSSI Aceh merupakan buntut dari polemik Kongres Biasa Pemilihan yang berlangsung di Sigli, Kabupaten Pidie, pada 3 Oktober 2026.

Dalam kongres tersebut, Nazir Adam memperoleh 33 suara dari 40 pemilik suara (voter) sah yang hadir dan dinyatakan terpilih sebagai ketua.

Namun, hasil kongres itu tidak mendapat pengakuan PSSI Pusat karena pelaksanaannya berlangsung di tengah adanya instruksi penghentian sementara dari Sekretaris Jenderal PSSI.

PSSI Pusat kemudian mengambil langkah membekukan kepengurusan lama dan menunjuk Rudi Yulianto sebagai Plt Ketua Asprov PSSI Aceh untuk menjalankan roda organisasi sekaligus mempersiapkan proses kongres berikutnya.

Kini, menurut Muslem, mandat tersebut harus segera ditindaklanjuti dengan langkah terukur. Sebab, ketidakpastian organisasi bukan hanya menyangkut persoalan pergantian kepemimpinan, tetapi juga masa depan pembinaan, kompetisi, dan prestasi sepak bola Aceh.

Kongres definitif menjadi langkah penting untuk mengakhiri polemik sekaligus mengembalikan kepastian tata kelola sepak bola di Aceh.

Sementara Plt Ketua PSSI Aceh, Mayjen TNI (Purn) Rudi Yulianto, yang dihubungi awak redaksi belum terkonfirmasi.   []

Harian Aceh Indonesia
BINTANG
‹
›

Berita Terkait

Beri Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *