ACEHFOOTBALL.net — Kongres PSSI Aceh telah berakhir. Nazir Adam kembali terpilih sebagai Ketua Asprov PSSI Aceh untuk periode 2026–2030.
Namun, di balik terpilihnya Nazir, tersimpan persoalan yang membuat kongres kali ini jauh lebih menarik dibanding sekadar agenda pergantian atau perpanjangan kepemimpinan.
Nazir bukan hanya kembali memimpin. Ia kembali terpilih karena para pesaingnya tidak hadir dalam kongres. Situasi tersebut mengingatkan pada kongres sebelumnya. Ketika itu, Nazir juga terpilih secara aklamasi untuk periode 2022–2026.
Ketua Panitia Kongres Biasa Pemilihan Asprov PSSI Aceh, Anwar Sastra Putra, menyebut dari 51 pemilik suara sah, 45 hadir dalam kongres di Hotel Grand Blang Asan, Pidie. Nazir akhirnya ditetapkan sebagai ketua setelah salah satu bakal calon, Zulfadli, tidak hadir.
Kini, empat tahun berselang, pola serupa kembali terjadi.
Dalam Kongres Biasa Pemilihan Asprov PSSI Aceh di Hotel Safira, Blang Paseh, Pidie, Sabtu (3/10/2026), Nazir kembali ditetapkan sebagai ketua. Dari 40 voter yang memiliki hak pilih, 33 suara diberikan kepada Nazir, sementara tujuh voter tidak hadir.
Kali ini, dua kandidat lainnya, Muslim MS dan Darmansyah Putra, tidak hadir. Ketidakhadiran dua kandidat kali ini memiliki konteks yang lebih rumit.
Sebelum kongres berlangsung, PSSI Pusat telah mengeluarkan surat bernomor 5656/PGD/582/IX-2026 tertanggal 24 September 2026. Surat tersebut meminta PSSI Aceh menghentikan sementara tahapan dan pelaksanaan Kongres Biasa Pemilihan PSSI Aceh.
PSSI Pusat mengambil langkah tersebut setelah mencermati dinamika serta menerima sejumlah masukan dari anggota dan stakeholder sepak bola Aceh menjelang kongres.
Artinya, kongres kali ini berlangsung dalam situasi organisasi yang tidak sepenuhnya tenang.
PSSI Aceh tetap melanjutkan agenda. Registrasi peserta dijadwalkan mulai pukul 09.00 WIB dan kongres pukul 10.00 WIB. Pada saat yang sama, dua kandidat, Muslim MS dan Darmansyah Putra, memilih tidak hadir dengan merujuk surat PSSI Pusat yang meminta penghentian tahapan kongres.
Ketua Harian KONI Aceh, Kennedy Husen, menyatakan pihaknya tidak akan menghadiri kongres karena memilih mengikuti keputusan PSSI Pusat.
“Kami berpedoman kepada surat resmi PSSI Pusat yang telah menghentikan seluruh tahapan Kongres PSSI Aceh. Karena itu KONI Aceh memastikan tidak hadir pada acara tersebut, jika memang dilaksanakan,” kata Kennedy.
Di sinilah letak persoalan yang lebih besar.
Secara internal, Nazir telah memperoleh dukungan mayoritas pemilik suara yang hadir dan kemudian ditetapkan sebagai ketua. Akan tetapi, secara organisasi, kongres tersebut sejak awal berada dalam bayang-bayang permintaan PSSI Pusat untuk menghentikan sementara tahapan kongres.
Karena itu, kemenangan Nazir tidak berhenti pada angka suara atau status aklamasi. Tantangan sesungguhnya justru berada setelah kongres.
Nazir harus memastikan kepemimpinannya mampu menyatukan kembali elemen sepak bola Aceh yang terbelah oleh perbedaan pandangan mengenai pelaksanaan kongres.
Ia sendiri menyadari bahwa jabatan tersebut merupakan amanah besar.
“Amanah yang diberikan ini tentu sangat berat. Saya berharap mari kita berdayung bersama, jangan tinggalkan saya melangkah sendiri,” kata Nazir.
Pesan itu penting. Sebab, kepemimpinan organisasi sepak bola tidak cukup hanya ditentukan oleh hasil kongres. Setelah kongres selesai, pekerjaan yang jauh lebih sulit adalah memastikan seluruh anggota merasa menjadi bagian dari organisasi.
Apalagi, Nazir menghadapi situasi yang berbeda dengan empat tahun sebelumnya. Jika pada periode pertama aklamasi berlangsung setelah satu kandidat tidak hadir, kali ini pemilihan berlangsung setelah PSSI Pusat secara resmi meminta penghentian sementara kongres.
Dengan demikian, persoalan PSSI Aceh kini bukan sekadar tentang siapa yang menjadi ketua.
Persoalannya adalah bagaimana memastikan roda organisasi tetap berjalan, hubungan dengan PSSI Pusat kembali harmonis, serta seluruh Askab, Askot, klub dan stakeholder sepak bola Aceh dapat duduk bersama setelah kontestasi yang meninggalkan perbedaan sikap.
Nazir sendiri meminta PSSI Pusat menghormati hasil kongres dan menindaklanjutinya sesuai statuta. Ia juga mengingatkan agar perbedaan pendapat tidak berubah menjadi konflik.
“Sepak bola ini persaudaraan, sepak bola ini keluarga. Kita berharap PSSI Pusat tidak melakukan hal-hal yang dapat menyebabkan kita bertengkar di sini hanya karena perbedaan pendapat,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Nazir memahami persoalan yang dihadapinya bukan persoalan kecil. Ia membutuhkan legitimasi organisasi yang lebih luas setelah terpilih secara aklamasi, terutama karena dua kandidat lain memilih tidak hadir dan PSSI Pusat sebelumnya meminta kongres dihentikan sementara.
Di titik ini, Nazir mempunyai pekerjaan rumah besar.
Aklamasi memang mengakhiri kontestasi. Tetapi aklamasi tidak otomatis mengakhiri perbedaan.
Empat tahun ke depan akan menjadi ujian apakah Nazir mampu mengubah kemenangan di ruang kongres menjadi konsolidasi nyata di lapangan.
PSSI Aceh membutuhkan kepemimpinan yang bukan hanya mampu memenangkan forum organisasi, tetapi juga menyatukan klub, Askab, Askot, KONI, pemerintah daerah, PSSI Pusat, serta seluruh stakeholder sepak bola Aceh.
Sebab, sepak bola Aceh tidak akan berkembang hanya karena pergantian atau penetapan seorang ketua.
Yang lebih menentukan adalah apakah setelah kongres semua pihak bersedia kembali duduk di meja yang sama.
Nazir sudah dua kali mendapatkan mandat melalui aklamasi. Tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa mandat tersebut mampu menjadi titik temu, bukan titik baru dari perbedaan sepak bola Aceh.






















