Menjadi pesepak bola internasional seperti yang diidam-idamkannya sejak kecil, menuntut Martunis untuk tidak hanya menguasai teknik dalam memainkan si kulit bundar itu saja. Tapi ia juga harus mampu menguasai bahasa Inggris untuk menunjang karir sepak bolanya kelak.
Hal ini sepertinya disadari benar oleh kakak asuh Martunis, Munawardi Ismail, yang sudah membimbingnya sejak usia tujuh tahun hingga sekarang. Berkat arahan Munawardi pula, sejak SMP Martunis sudah mulai mengikuti kursus bahasa Inggris.
Belakangan, Martunis mulai lebih intensif belajar bahasa Inggris dengan mengambil jalur privat. Selain Frilla Geubrina Djufri yang dipilihkan langsung oleh Kedutaan Portugal sebagai guru bahasa Inggris Martunis, anak angkat Christiano Ronaldo itu juga memiliki seorang guru privat lainnya, namanya Nisaul Khaira, akrab dipanggil Nisa.
Nisa mengajar Martunis terhitung sejak Agustus-September 2014 lalu. Tak lama setelah Martunis menyelesaikan pendidikan SMA. Awal pertemuannya dengan Martunis hingga didapuk sebagai guru privat remaja berusia 18 tahun itu pun terbilang unik.
Kepada portalsatu.com, Nisa menceritakan semua itu berawal dari pertemuannya dengan Munawardi Ismail yang pernah mengampu salah satu mata kuliah yang diambil Nisa di Jurusan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
“Waktu itu pernah singgung tentang kegiatan selain kuliah, pengalaman, dan lainnya. Saya cerita kalau saya sangat menyukai bahasa Inggris dan jadi tutor juga di salah satu tempat kursus dan mengajar les pribadi juga,” kata Nisa, Rabu, 8 Juli 2015.
Setelah mendengar cerita Nisa yang juga pernah menjadi guru privat mahasiswa ITB dan pelajar Fatih, Munawardi menjadi tertarik dan menawarkan Nisa untuk menjadi guru Martunis.
“Awalnya saya ragu karena merasa enggak layak, karena ilmu bahasa Inggris saya masih minim, tapi Pak Munawardi meyakinkan saya,” kata mahasiswi kelahiran Lamsinyeu, Ingin Jaya, Aceh Besar pada 3 Februari 1992 itu.
Selama mengajar, Nisa pun punya teknik sendiri. Untuk Martunis, ia fokus pada speaking atau teknik percakapan. Ia membuat aturan selama proses belajar mengajar harus bicara dalam bahasa Inggris. Awalnya Martunis memang sempat dibuat kewalahan oleh Nisa, tapi semakin hari kosa kata yang dikuasai Martunis semakin meningkat. “Cuma gampang lupa juga,” kata gadis penyuka fotografi ini.
Meski hanya sempat mengajar dalam waktu singkat, Nisa punya kesan tersendiri pada Martunis yang kini sudah menjadi bagian dari Akademi Sporting Lisbon.
“Saya suka semangatnya dia yang berusaha agar bisa ngomong bahasa Inggris, walaupun lupa-lupa, tapi tekatnya dia yang saya suka,” ujar Nisa yang pernah nyantri di Pesantren Al-Falah Abu Lam U Aceh Besar itu dan mengasah kemampuan bahasa Inggrisnya di pesantren tersebut.
Sembari kuliah Nisa juga membantu mengelola usaha Hafiz Tour and Travel milik keluarganya, ia mengaku bangga pernah menjadi guru Martunis. Nisa pun punya pesan khusus untuk Martunis. “Selamat mengejar impian adek, jangan pernah berhenti,” katanya.
Martunis yang lahir di Tibang, Banda Aceh pada 2 Mei 1997 silam itu berangkat ke Portugal pada 28 Juni 2015 lalu. Ia dijadwalkan akan belajar bola di akademi bergengsi itu selama setahun.
“Selama di sana saya juga menyuruh Martunis untuk belajar bahasa Portugal,” kata Munawardi kepada portalsatu.com beberapa hari lalu.[ihn]
Berita ini disiarkan atas kerjasama Media Officer Martunis ACEHFOOTBALL.com dengan Portalsatu.com.






Komentar