Bek sayap kanan Persija, Ismed Sofyan (27), dihinggapi dilema menjelang pertemuan klubnya dengan PSSB Bireuen. Ingatannya kembali terbang ke masa-masa awal karier sebagai pesepakbola di bumi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
Ya, Ismed merupakan putera asli Aceh yang memulai debut sebagai pemain profesional di PSBL Langsa akhir tahun 90-an. “Saya memang tak pernah bermain di sana, tapi pemain dan ofisial PSSB itu saudara, sama-sama berdarah Aceh,” sebut pemain kelahiran 28 Agustus itu.
Kecintaan Ismed pada kampung halamannya dibuktikan saat tampil membela Persiraja melawan Persipura dalam laga amal bencana tsunami akhir 2005.
Toh Ismed sadar sebagai profesional sejati dia harus bisa menepikan ikatan persaudaraan. Jika Ismed bermain setengah hati, tentu membahayakan Persija yang masih tertahan di papan tengah Wilayah Barat.
“Fokus utama saya menjaga grafik permainan Persija tetap di jalur positif agar bisa menyodok ke atas. Mereka pasti mengerti posisi saya. Di lapangan kami musuh, tapi begitu pertandingan usai kami kembali saudara,” tegas Ismed tanpa raguragu.
Totalitas itu diyakini pelatih Persija, Serghei Dubrovin, seperti halnya pelatih Chelsea asal Portugal, Jose Mourinho, yang bisa melupakan fanatisme negara saat menjajal klub tanah kelahirannya yang pernah disinggahinya, FC Porto, pada perdelapanfinal Liga Champion Eropa.
“Saya percaya Ismed pasti bisa melakukan itu,” ucap arsitek asal Moldova itu santai. “Sikap profesional Mourinho layak saya tiru,” ujar Ismed.
Sumber: Bolanews



















Komentar