ACEHFOOTBALL.net — Ketika jutaan penggemar menikmati kemegahan Piala Dunia FIFA 2026, ada satu sosok yang kembali mencatatkan sejarah.
Namanya Enrique Macaya Márquez, jurnalis asal Argentina berusia 91 tahun yang resmi menjadi wartawan pertama di dunia yang meliput 17 edisi Piala Dunia secara beruntun.
Perjalanan luar biasa itu dimulai pada Piala Dunia 1958 di Swedia. Saat itu, perjalanan dari Argentina menuju Eropa sama sekali tidak mudah.
Ia harus menempuh penerbangan dengan pesawat baling-baling yang berkali-kali singgah untuk mengisi bahan bakar, dilanjutkan perjalanan dengan kereta api, bus, hingga feri sebelum tiba di lokasi turnamen.
“Pesawat berhenti di begitu banyak tempat untuk mengisi bahan bakar hingga saya tak lagi mengingat semuanya,” kenangnya.
Di era tersebut, teknologi penyiaran juga masih sangat sederhana. Laporan pertandingan dikirim melalui sambungan telepon internasional menuju Argentina.
“Itu benar-benar sebuah keajaiban jika siaran bisa sampai,” ujarnya.
Macaya mulai bekerja sebagai penyiar radio sejak berusia 15 tahun. Kesempatan emas datang ketika komentator utama berhalangan hadir dan ia diminta menggantikan. Sejak saat itu, kariernya terus menanjak hingga dipercaya meliput Piala Dunia pada usia 23 tahun.
Selama hampir tujuh dekade, Macaya menjadi saksi hidup berbagai momen bersejarah sepak bola dunia.
Ia menyaksikan Argentina menjuarai Piala Dunia pada 1978 dan 1986, mengikuti perjalanan karier Diego Maradona sejak mencetak gol pertama untuk tim nasional, hingga melihat langsung kejayaan Brasil pada 1970.
Namun, tim favoritnya sepanjang sejarah justru bukan Brasil maupun Argentina.
“Tim Belanda pada Piala Dunia 1974 adalah favorit saya. Mereka memainkan total football dengan kualitas teknik, pergerakan, dan kondisi fisik yang luar biasa,” katanya.
Macaya juga tumbuh di lingkungan yang sama dengan legenda sepak bola Alfredo Di Stéfano. Bahkan, semasa kecil ia beberapa kali bermain bersama calon bintang Real Madrid tersebut.
Sepanjang kariernya, Macaya bekerja di berbagai stasiun radio ternama Argentina seperti Colonia, Belgrano, Rivadavia, Mitre, La Red hingga Del Plata.
Namanya juga melejit melalui program televisi Fútbol de Primero serta sebagai kolumnis di surat kabar Clarín dan La Nación.
Meski menjadi ikon televisi, Macaya mengaku radio tetap menjadi cinta pertamanya.
“Televisi membuat saya dikenal banyak orang, tetapi saya memulai semuanya dari radio ketika berusia 15 tahun,” ujarnya.
Yang menarik, di tengah era statistik canggih dan kecerdasan buatan, metode persiapan Macaya tetap sederhana. Ketika ditanya bagaimana ia mempersiapkan diri sebelum mengomentari pertandingan, jawabannya singkat.
“Tidak melakukan apa-apa.”
Baginya, pengalaman puluhan tahun, pemahaman terhadap sepak bola, serta kemampuan membaca permainan jauh lebih penting dibanding menghafal angka-angka statistik.
“Anda harus memiliki pengetahuan, mampu mengomunikasikannya, memahami teknologi, mengerti sepak bola, dan terus belajar dari orang lain. Itulah cara menjadi lebih baik,” tuturnya.
Dari perjalanan panjang dengan pesawat baling-baling hingga meliput turnamen di era digital, Enrique Macaya Márquez bukan sekadar jurnalis. Ia telah menjadi bagian dari sejarah Piala Dunia itu sendiri.
Sumber: Fifa





















Komentar