• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Fans Menulis
  • Terms of use
  • Aturan Media Siber
Selasa, Juli 7, 2026
ACEHFOOTBALL.net
  • HOME
  • BOLA ACEH
  • BOLANESIA
  • PIALA DUNIA
  • ANALISIS
  • A-SPORT
  • LIGA DUNIA
  • FUTSAL
  • PERSIRAJA
  • FANTASY
  • TV
No Result
View All Result
ACEHFOOTBALL.net
Selasa, Juli 7, 2026
No Result
View All Result
ACEHFOOTBALL.net
No Result
View All Result

Kursi Ketua Umum PSSI

MW Kuba MW Kuba
Minggu, 11/01/2015 - 18:31 WIB
in Nasional, Sepakbola Indonesia
Share on FacebookShare on Twitter

Sebuah ungkapan menyebut bahwa dibutuhkan satu lagu untuk mengembalikan seribu kenangan. Setuju?

Rasanya, masing-masing kita punya sebuah lagu nostalgia yang ketika diper­dengar­kan tanpa sengaja sontak membawa kita ke tahun yang telah berlalu.

Nostalgia. Akhir tahun lalu, saya mudik ke kampung halaman, daerah kelahiran dan tempat saya dibesarkan. Namanya Rumbai. Sebuah kecamatan di Kota Pekanbaru, Riau.

Selain melihat kompleks perumahan, yang kini jauh lebih sepi dari era ketika saya dan teman-teman sepermainan beraktivitas, nostalgia itu juga membawa saya ke sebuah lapangan sepak bola.

INFO BOLALAINNYA

Unaaha FC Melaju ke 16 Besar dengan Poin Sempurna

Unaaha FC Melaju ke 16 Besar dengan Poin Sempurna

15/06/2026 - 22:07 WIB
Unaaha FC dan PS Ngada Berebut Status Juara Grup

Unaaha FC dan PS Ngada Berebut Status Juara Grup

15/06/2026 - 10:00 WIB
Pelatih Aceh Ini Bersiap Cetak Sejarah Bersama Tim Sulawesi

Pelatih Aceh Ini Bersiap Cetak Sejarah Bersama Tim Sulawesi

12/06/2026 - 14:49 WIB
Ini Jadwal PSAP Sigli dan Al Farlaky FC di 64 Besar Liga 4 Nasional

PSAP dan Al Farlaky Gagal ke 32 Besar Liga 4 Nasional

06/06/2026 - 17:49 WIB

Di lapangan tersebut, terdapat banyak kenangan yang ikut berperan membawa saya menjadi wartawan olah raga saat ini.

Lapangan tempat saya pernah membantu tim sekolah menjuarai Piala Cendana, sebuah turnamen sepak bola antar-SMA di Riau. Sebuah nostalgia yang tak pernah lekang dari ingatan saya.

Ada juga sebuah ucapan lain tentang nostalgia yang tanpa sadar kerap kita praktikkan.
Florence King, penulis wanita dari Amerika Serikat, mengingatkan betapa nostalgia itu punya kekuatan yang mampu mengubur hal yang tak kita inginkan.

Katanya, “Nostalgia merupa­kan perasaan yang sangat kuat yang dimiliki manusia yang mampu meredam sesuatu yang tidak ingin kita kenang.”

Perjumpaan dengan se­jum­lah rekan dan kenalan di Pekan­baru tak bisa lepas dari pem­bicaraan seputar sepak bola?

Tentang kenangan menye­nang­kan di kejuaraan sepak bola SMA itu? Tidak, pem­bica­raan kami tak melulu soal itu.

Saya tak bisa menghindari topik seputar perkembangan sepak bola nasional dan PSSI, sebagai federasi olah raga terpopuler di Tanah Air.

Ada suara yang menegaskan sikapnya tak percaya bahwa dunia sepak bola kita bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ia ingin mengubur kenangan tak sedap yang pernah dirasakan.

Lalu, ada pembahasan yang kemudian menghangatkan pembicaraan kami. Sebuah perdebatan tentang jabatan Ketua Umum PSSI.

Benarkah jabatan ini tergolong “lahan basah” atau sebuah “kendaraan” untuk mencapai ambisi yang lebih tinggi lagi?

Apakah menjadi Ketua Umum PSSI itu bakal kaya karena menerima gaji “wah” ataukah malah harus mengeluarkan banyak uang demi sasaran yang lebih besar?

Sungguh bincang-bincang yang menarik ketika masing-masing pihak yang terlibat dalam diskusi punya pandangan soal popularitas petinggi PSSI.

“Ah, sejak dulu Ketua Umum PSSI jauh lebih ngetop dibanding para pemain sepak bola. Aneh, padahal prestasi tim nasional tak pernah membanggakan di era mereka.”

***
Bila Anda ditanya, nama siapa yang muncul sebagai Ketua Umum PSSI terbaik dalam tiga dekade terakhir?
Saya “melek” drama sepak bola di era kepemimpinan Kardono (1983-1991).

Tak lama setelah memulai kegiatan sebagai penghuni baru di ibu kota pada awal 1990-an, olok-olok dan makian terhadap Kardono menjadi suara domi­nan di dalam Stadion Senayan.

Sebuah sikap dan perbuatan yang sungguh asing bagi saya. Bagaimana mungkin para remaja ibu kota bisa mengeluarkan makian yang menurut saya sangat tidak sopan disampaikan kepada orang yang lebih tua?

Tahun berganti, begitu pula penguasa PSSI. Sejak Kardono hingga saat ini Djohar Arifin Husin, hanya nama Agum Gumelar yang sepi dari makian penonton di Stadion Utama Gelora Bung Karno setiap timnas berlaga.

Bila memang kursi Ketua Umum PSSI begitu panas, kenapa ada pertengkaran dalam memperebutkan jabatan tersebut hingga mengorbankan olah raga itu sendiri?
Di Pekanbaru, waktu saya untuk bernostalgia tak ingin terkubur dalam pembahasan yang seolah tak berujung.

Tapi, saya meninggalkan Kota Minyak itu dengan pertanyaan: kenapa jabatan Ketua Umum PSSI itu diperebutkan? Benarkah murni karena aspek olah raga dan prestasi anak bangsa?

Rasanya, masing-masing kita punya sebuah lagu nostalgia yang ketika diper­dengar­kan tanpa sengaja sontak membawa kita ke tahun yang telah berlalu.

Nostalgia. Akhir tahun lalu, saya mudik ke kampung halaman, daerah kelahiran dan tempat saya dibesarkan. Namanya Rumbai. Sebuah kecamatan di Kota Pekanbaru, Riau.

Selain melihat kompleks perumahan, yang kini jauh lebih sepi dari era ketika saya dan teman-teman sepermainan beraktivitas, nostalgia itu juga membawa saya ke sebuah lapangan sepak bola.

Di lapangan tersebut, terdapat banyak kenangan yang ikut berperan membawa saya menjadi wartawan olah raga saat ini.

Lapangan tempat saya pernah membantu tim sekolah menjuarai Piala Cendana, sebuah turnamen sepak bola antar-SMA di Riau. Sebuah nostalgia yang tak pernah lekang dari ingatan saya.

Ada juga sebuah ucapan lain tentang nostalgia yang tanpa sadar kerap kita praktikkan.

Florence King, penulis wanita dari Amerika Serikat, mengingatkan betapa nostalgia itu punya kekuatan yang mampu mengubur hal yang tak kita inginkan.

Katanya, “Nostalgia merupa­kan perasaan yang sangat kuat yang dimiliki manusia yang mampu meredam sesuatu yang tidak ingin kita kenang.”

Perjumpaan dengan se­jum­lah rekan dan kenalan di Pekan­baru tak bisa lepas dari pem­bicaraan seputar sepak bola?

Tentang kenangan menye­nang­kan di kejuaraan sepak bola SMA itu? Tidak, pem­bica­raan kami tak melulu soal itu.

Saya tak bisa menghindari topik seputar perkembangan sepak bola nasional dan PSSI, sebagai federasi olah raga terpopuler di Tanah Air.

Ada suara yang menegaskan sikapnya tak percaya bahwa dunia sepak bola kita bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ia ingin mengubur kenangan tak sedap yang pernah dirasakan.

Lalu, ada pembahasan yang kemudian menghangatkan pembicaraan kami. Sebuah perdebatan tentang jabatan Ketua Umum PSSI.

Benarkah jabatan ini tergolong “lahan basah” atau sebuah “kendaraan” untuk mencapai ambisi yang lebih tinggi lagi?

Apakah menjadi Ketua Umum PSSI itu bakal kaya karena menerima gaji “wah” ataukah malah harus mengeluarkan banyak uang demi sasaran yang lebih besar?

Sungguh bincang-bincang yang menarik ketika masing-masing pihak yang terlibat dalam diskusi punya pandangan soal popularitas petinggi PSSI.

“Ah, sejak dulu Ketua Umum PSSI jauh lebih ngetop dibanding para pemain sepak bola. Aneh, padahal prestasi tim nasional tak pernah membanggakan di era mereka.”

***

Bila Anda ditanya, nama siapa yang muncul sebagai Ketua Umum PSSI terbaik dalam tiga dekade terakhir?

Saya “melek” drama sepak bola di era kepemimpinan Kardono (1983-1991).

Tak lama setelah memulai kegiatan sebagai penghuni baru di ibu kota pada awal 1990-an, olok-olok dan makian terhadap Kardono menjadi suara domi­nan di dalam Stadion Senayan.

Sebuah sikap dan perbuatan yang sungguh asing bagi saya. Bagaimana mungkin para remaja ibu kota bisa mengeluarkan makian yang menurut saya sangat tidak sopan disampaikan kepada orang yang lebih tua?

Tahun berganti, begitu pula penguasa PSSI. Sejak Kardono hingga saat ini Djohar Arifin Husin, hanya nama Agum Gumelar yang sepi dari makian penonton di Stadion Utama Gelora Bung Karno setiap timnas berlaga.

Bila memang kursi Ketua Umum PSSI begitu panas, kenapa ada pertengkaran dalam memperebutkan jabatan tersebut hingga mengorbankan olah raga itu sendiri?

Di Pekanbaru, waktu saya untuk bernostalgia tak ingin terkubur dalam pembahasan yang seolah tak berujung.

Tapi, saya meninggalkan Kota Minyak itu dengan pertanyaan: kenapa jabatan Ketua Umum PSSI itu diperebutkan? Benarkah murni karena aspek olah raga dan prestasi anak bangsa?

Sumber: Bolanews

Tags: pssi
ShareTweetPin
Previous Post

6 Klub Divisi Utama Ikuti Piala Bupati Cilacap

Next Post

Juli Nanti, Frank Lampard Hijrah ke New York

BERITA BOLA LAINNYA

Saddil Ramdani Siap Buktikan Diri di Era John Herdman

Saddil Ramdani Siap Buktikan Diri di Era John Herdman

05/06/2026 - 17:25 WIB
Revan Kejar Mimpi Bersama Timnas Futsal U-17 Indonesia

Revan Kejar Mimpi Bersama Timnas Futsal U-17 Indonesia

01/06/2026 - 15:44 WIB
Ini Jadwal PSAP Sigli dan Al Farlaky FC di 64 Besar Liga 4 Nasional

Ini Jadwal PSAP Sigli dan Al Farlaky FC di 64 Besar Liga 4 Nasional

29/05/2026 - 23:49 WIB
Talenta Aceh Tembus Timnas Futsal, Revan Ikut TC U-17 Jelang ke Spanyol

Talenta Aceh Tembus Timnas Futsal, Revan Ikut TC U-17 Jelang ke Spanyol

29/05/2026 - 20:23 WIB
Klub Zulfiandi Dukung Erick Thohir Jadi Ketua Umum PSSI

Piala Presiden 2026 Bukti Sepak Bola Pemersatu dari Akar Rumput

14/05/2026 - 21:03 WIB
Persiraja Berharap Ikut Piala Presiden, Ini Kata Manajemen

Piala Presiden 2026 Resmi Digelar, 2 Klub Aceh Siap Tempur

14/05/2026 - 20:57 WIB
Delapan Tim Melaju ke 8 Besar EPA U-19, Persiraja Terbenam

Delapan Tim Melaju ke 8 Besar EPA U-19, Persiraja Terbenam

07/05/2026 - 15:19 WIB
Persiraja U-19 Kembali Tumbang dari Skuat Sumsel United

Persiraja U-19 “Incar” Kekalahan Ketujuh EPA Championship

02/05/2026 - 07:14 WIB
Misi Tiga Poin, Persiraja U-19 Hadapi Ujian Berat Sumsel United

Tak Kunjung Menang, Persiraja Menderita di EPA Championship

30/04/2026 - 15:43 WIB
Persiraja U-19 Jalani Empat Laga Tanpa Kemenangan

Terpuruk di Dasar Klasemen, Persiraja U-19 Kembali Tumbang

23/04/2026 - 15:17 WIB
Load More

Komentar

90 MENIT TERPOPULER

  • Empat Tim Pastikan Promosi ke Liga Nusantara 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mesir Terancam Tanpa Salah Hadapi Australia di Babak 32 Besar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Persiraja Mencari Bibit Lokal, Jangan Sekadar Merekrut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dispora Aceh Berangkatkan Dua Tim ke Piala Presiden 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ini Jadwal Lengkap Babak 16 Besar Piala Dunia 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

KLASEMEN

UPDATE TERBARU

Mbappe Pimpin Persaingan Sepatu Emas Piala Dunia

Mbappe Pimpin Persaingan Sepatu Emas Piala Dunia

06/07/2026
Bellingham Bikin Inggris Singkirkan Tuan Rumah Meksiko

Bellingham Bikin Inggris Singkirkan Tuan Rumah Meksiko

06/07/2026
Brasil Menangis, Nyland dan Haaland Ukir Dongeng Norwegia

Brasil Menangis, Nyland dan Haaland Ukir Dongeng Norwegia

06/07/2026
Brace Haaland Bawa Norwegia Singkirkan Brasil

Brace Haaland Bawa Norwegia Singkirkan Brasil

06/07/2026
Gol Penalti Mbappe Antar Prancis Tantang Maroko

Gol Penalti Mbappe Antar Prancis Tantang Maroko

05/07/2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Fans Menulis
  • Terms of use
  • Aturan Media Siber

© 2020 - CV. Pedagangkata Aceh Media (Pekame). Made with in Indonesia
Developed by PT. Harian Aceh Indonesia

No Result
View All Result
  • HOME
  • BOLA ACEH
  • BOLANESIA
  • PIALA DUNIA
  • ANALISIS
  • A-SPORT
  • LIGA DUNIA
  • FUTSAL
  • PERSIRAJA
  • FANTASY
  • TV
  • Login

© 2020 - CV. Pedagangkata Aceh Media (Pekame). Made with in Indonesia
Developed by PT. Harian Aceh Indonesia