Sebuah ungkapan menyebut bahwa dibutuhkan satu lagu untuk mengembalikan seribu kenangan. Setuju?
Rasanya, masing-masing kita punya sebuah lagu nostalgia yang ketika diperdengarkan tanpa sengaja sontak membawa kita ke tahun yang telah berlalu.
Nostalgia. Akhir tahun lalu, saya mudik ke kampung halaman, daerah kelahiran dan tempat saya dibesarkan. Namanya Rumbai. Sebuah kecamatan di Kota Pekanbaru, Riau.
Selain melihat kompleks perumahan, yang kini jauh lebih sepi dari era ketika saya dan teman-teman sepermainan beraktivitas, nostalgia itu juga membawa saya ke sebuah lapangan sepak bola.
Di lapangan tersebut, terdapat banyak kenangan yang ikut berperan membawa saya menjadi wartawan olah raga saat ini.
Lapangan tempat saya pernah membantu tim sekolah menjuarai Piala Cendana, sebuah turnamen sepak bola antar-SMA di Riau. Sebuah nostalgia yang tak pernah lekang dari ingatan saya.
Ada juga sebuah ucapan lain tentang nostalgia yang tanpa sadar kerap kita praktikkan.
Florence King, penulis wanita dari Amerika Serikat, mengingatkan betapa nostalgia itu punya kekuatan yang mampu mengubur hal yang tak kita inginkan.
Katanya, “Nostalgia merupakan perasaan yang sangat kuat yang dimiliki manusia yang mampu meredam sesuatu yang tidak ingin kita kenang.”
Perjumpaan dengan sejumlah rekan dan kenalan di Pekanbaru tak bisa lepas dari pembicaraan seputar sepak bola?
Tentang kenangan menyenangkan di kejuaraan sepak bola SMA itu? Tidak, pembicaraan kami tak melulu soal itu.
Saya tak bisa menghindari topik seputar perkembangan sepak bola nasional dan PSSI, sebagai federasi olah raga terpopuler di Tanah Air.
Ada suara yang menegaskan sikapnya tak percaya bahwa dunia sepak bola kita bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ia ingin mengubur kenangan tak sedap yang pernah dirasakan.
Lalu, ada pembahasan yang kemudian menghangatkan pembicaraan kami. Sebuah perdebatan tentang jabatan Ketua Umum PSSI.
Benarkah jabatan ini tergolong “lahan basah” atau sebuah “kendaraan” untuk mencapai ambisi yang lebih tinggi lagi?
Apakah menjadi Ketua Umum PSSI itu bakal kaya karena menerima gaji “wah” ataukah malah harus mengeluarkan banyak uang demi sasaran yang lebih besar?
Sungguh bincang-bincang yang menarik ketika masing-masing pihak yang terlibat dalam diskusi punya pandangan soal popularitas petinggi PSSI.
“Ah, sejak dulu Ketua Umum PSSI jauh lebih ngetop dibanding para pemain sepak bola. Aneh, padahal prestasi tim nasional tak pernah membanggakan di era mereka.”
***
Bila Anda ditanya, nama siapa yang muncul sebagai Ketua Umum PSSI terbaik dalam tiga dekade terakhir?
Saya “melek” drama sepak bola di era kepemimpinan Kardono (1983-1991).
Tak lama setelah memulai kegiatan sebagai penghuni baru di ibu kota pada awal 1990-an, olok-olok dan makian terhadap Kardono menjadi suara dominan di dalam Stadion Senayan.
Sebuah sikap dan perbuatan yang sungguh asing bagi saya. Bagaimana mungkin para remaja ibu kota bisa mengeluarkan makian yang menurut saya sangat tidak sopan disampaikan kepada orang yang lebih tua?
Tahun berganti, begitu pula penguasa PSSI. Sejak Kardono hingga saat ini Djohar Arifin Husin, hanya nama Agum Gumelar yang sepi dari makian penonton di Stadion Utama Gelora Bung Karno setiap timnas berlaga.
Bila memang kursi Ketua Umum PSSI begitu panas, kenapa ada pertengkaran dalam memperebutkan jabatan tersebut hingga mengorbankan olah raga itu sendiri?
Di Pekanbaru, waktu saya untuk bernostalgia tak ingin terkubur dalam pembahasan yang seolah tak berujung.
Tapi, saya meninggalkan Kota Minyak itu dengan pertanyaan: kenapa jabatan Ketua Umum PSSI itu diperebutkan? Benarkah murni karena aspek olah raga dan prestasi anak bangsa?
Rasanya, masing-masing kita punya sebuah lagu nostalgia yang ketika diperdengarkan tanpa sengaja sontak membawa kita ke tahun yang telah berlalu.
Nostalgia. Akhir tahun lalu, saya mudik ke kampung halaman, daerah kelahiran dan tempat saya dibesarkan. Namanya Rumbai. Sebuah kecamatan di Kota Pekanbaru, Riau.
Selain melihat kompleks perumahan, yang kini jauh lebih sepi dari era ketika saya dan teman-teman sepermainan beraktivitas, nostalgia itu juga membawa saya ke sebuah lapangan sepak bola.
Di lapangan tersebut, terdapat banyak kenangan yang ikut berperan membawa saya menjadi wartawan olah raga saat ini.
Lapangan tempat saya pernah membantu tim sekolah menjuarai Piala Cendana, sebuah turnamen sepak bola antar-SMA di Riau. Sebuah nostalgia yang tak pernah lekang dari ingatan saya.
Ada juga sebuah ucapan lain tentang nostalgia yang tanpa sadar kerap kita praktikkan.
Florence King, penulis wanita dari Amerika Serikat, mengingatkan betapa nostalgia itu punya kekuatan yang mampu mengubur hal yang tak kita inginkan.
Katanya, “Nostalgia merupakan perasaan yang sangat kuat yang dimiliki manusia yang mampu meredam sesuatu yang tidak ingin kita kenang.”
Perjumpaan dengan sejumlah rekan dan kenalan di Pekanbaru tak bisa lepas dari pembicaraan seputar sepak bola?
Tentang kenangan menyenangkan di kejuaraan sepak bola SMA itu? Tidak, pembicaraan kami tak melulu soal itu.
Saya tak bisa menghindari topik seputar perkembangan sepak bola nasional dan PSSI, sebagai federasi olah raga terpopuler di Tanah Air.
Ada suara yang menegaskan sikapnya tak percaya bahwa dunia sepak bola kita bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ia ingin mengubur kenangan tak sedap yang pernah dirasakan.
Lalu, ada pembahasan yang kemudian menghangatkan pembicaraan kami. Sebuah perdebatan tentang jabatan Ketua Umum PSSI.
Benarkah jabatan ini tergolong “lahan basah” atau sebuah “kendaraan” untuk mencapai ambisi yang lebih tinggi lagi?
Apakah menjadi Ketua Umum PSSI itu bakal kaya karena menerima gaji “wah” ataukah malah harus mengeluarkan banyak uang demi sasaran yang lebih besar?
Sungguh bincang-bincang yang menarik ketika masing-masing pihak yang terlibat dalam diskusi punya pandangan soal popularitas petinggi PSSI.
“Ah, sejak dulu Ketua Umum PSSI jauh lebih ngetop dibanding para pemain sepak bola. Aneh, padahal prestasi tim nasional tak pernah membanggakan di era mereka.”
***
Bila Anda ditanya, nama siapa yang muncul sebagai Ketua Umum PSSI terbaik dalam tiga dekade terakhir?
Saya “melek” drama sepak bola di era kepemimpinan Kardono (1983-1991).
Tak lama setelah memulai kegiatan sebagai penghuni baru di ibu kota pada awal 1990-an, olok-olok dan makian terhadap Kardono menjadi suara dominan di dalam Stadion Senayan.
Sebuah sikap dan perbuatan yang sungguh asing bagi saya. Bagaimana mungkin para remaja ibu kota bisa mengeluarkan makian yang menurut saya sangat tidak sopan disampaikan kepada orang yang lebih tua?
Tahun berganti, begitu pula penguasa PSSI. Sejak Kardono hingga saat ini Djohar Arifin Husin, hanya nama Agum Gumelar yang sepi dari makian penonton di Stadion Utama Gelora Bung Karno setiap timnas berlaga.
Bila memang kursi Ketua Umum PSSI begitu panas, kenapa ada pertengkaran dalam memperebutkan jabatan tersebut hingga mengorbankan olah raga itu sendiri?
Di Pekanbaru, waktu saya untuk bernostalgia tak ingin terkubur dalam pembahasan yang seolah tak berujung.
Tapi, saya meninggalkan Kota Minyak itu dengan pertanyaan: kenapa jabatan Ketua Umum PSSI itu diperebutkan? Benarkah murni karena aspek olah raga dan prestasi anak bangsa?
Sumber: Bolanews


















Komentar