• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Fans Menulis
  • Terms of use
  • Aturan Media Siber
Kamis, Juli 30, 2026
ACEHFOOTBALL.net
  • HOME
  • BOLA ACEH
  • BOLANESIA
  • PIALA DUNIA
  • ANALISIS
  • A-SPORT
  • LIGA DUNIA
  • FUTSAL
  • PERSIRAJA
  • FANTASY
  • TV
No Result
View All Result
ACEHFOOTBALL.net
Kamis, Juli 30, 2026
No Result
View All Result
ACEHFOOTBALL.net
No Result
View All Result

Kursi Ketua Umum PSSI

MW Kuba MW Kuba
Minggu, 11/01/2015 - 18:31 WIB
in Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Sebuah ungkapan menyebut bahwa dibutuhkan satu lagu untuk mengembalikan seribu kenangan. Setuju?

Rasanya, masing-masing kita punya sebuah lagu nostalgia yang ketika diper­dengar­kan tanpa sengaja sontak membawa kita ke tahun yang telah berlalu.

Nostalgia. Akhir tahun lalu, saya mudik ke kampung halaman, daerah kelahiran dan tempat saya dibesarkan. Namanya Rumbai. Sebuah kecamatan di Kota Pekanbaru, Riau.

Selain melihat kompleks perumahan, yang kini jauh lebih sepi dari era ketika saya dan teman-teman sepermainan beraktivitas, nostalgia itu juga membawa saya ke sebuah lapangan sepak bola.

INFO BOLALAINNYA

TAJUK: Mengapa Klub-klub Aceh Gagal Bersaing di Liga Nasional?

Unaaha FC Awali 16 Besar dengan Kemenangan, Tekuk Persema

19/06/2026 - 18:04 WIB
Coach Azhar: Unaaha FC Siap Berlaga di Babak 16 Besar Liga 4 Nasional

Coach Azhar: Unaaha FC Siap Berlaga di Babak 16 Besar Liga 4 Nasional

17/06/2026 - 08:32 WIB
Unaaha FC Melaju ke 16 Besar dengan Poin Sempurna

Unaaha FC Melaju ke 16 Besar dengan Poin Sempurna

15/06/2026 - 22:07 WIB
Unaaha FC dan PS Ngada Berebut Status Juara Grup

Unaaha FC dan PS Ngada Berebut Status Juara Grup

15/06/2026 - 10:00 WIB

Di lapangan tersebut, terdapat banyak kenangan yang ikut berperan membawa saya menjadi wartawan olah raga saat ini.

Lapangan tempat saya pernah membantu tim sekolah menjuarai Piala Cendana, sebuah turnamen sepak bola antar-SMA di Riau. Sebuah nostalgia yang tak pernah lekang dari ingatan saya.

Ada juga sebuah ucapan lain tentang nostalgia yang tanpa sadar kerap kita praktikkan.
Florence King, penulis wanita dari Amerika Serikat, mengingatkan betapa nostalgia itu punya kekuatan yang mampu mengubur hal yang tak kita inginkan.

Katanya, “Nostalgia merupa­kan perasaan yang sangat kuat yang dimiliki manusia yang mampu meredam sesuatu yang tidak ingin kita kenang.”

Perjumpaan dengan se­jum­lah rekan dan kenalan di Pekan­baru tak bisa lepas dari pem­bicaraan seputar sepak bola?

Tentang kenangan menye­nang­kan di kejuaraan sepak bola SMA itu? Tidak, pem­bica­raan kami tak melulu soal itu.

Saya tak bisa menghindari topik seputar perkembangan sepak bola nasional dan PSSI, sebagai federasi olah raga terpopuler di Tanah Air.

Ada suara yang menegaskan sikapnya tak percaya bahwa dunia sepak bola kita bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ia ingin mengubur kenangan tak sedap yang pernah dirasakan.

Lalu, ada pembahasan yang kemudian menghangatkan pembicaraan kami. Sebuah perdebatan tentang jabatan Ketua Umum PSSI.

Benarkah jabatan ini tergolong “lahan basah” atau sebuah “kendaraan” untuk mencapai ambisi yang lebih tinggi lagi?

Apakah menjadi Ketua Umum PSSI itu bakal kaya karena menerima gaji “wah” ataukah malah harus mengeluarkan banyak uang demi sasaran yang lebih besar?

Sungguh bincang-bincang yang menarik ketika masing-masing pihak yang terlibat dalam diskusi punya pandangan soal popularitas petinggi PSSI.

“Ah, sejak dulu Ketua Umum PSSI jauh lebih ngetop dibanding para pemain sepak bola. Aneh, padahal prestasi tim nasional tak pernah membanggakan di era mereka.”

***
Bila Anda ditanya, nama siapa yang muncul sebagai Ketua Umum PSSI terbaik dalam tiga dekade terakhir?
Saya “melek” drama sepak bola di era kepemimpinan Kardono (1983-1991).

Tak lama setelah memulai kegiatan sebagai penghuni baru di ibu kota pada awal 1990-an, olok-olok dan makian terhadap Kardono menjadi suara domi­nan di dalam Stadion Senayan.

Sebuah sikap dan perbuatan yang sungguh asing bagi saya. Bagaimana mungkin para remaja ibu kota bisa mengeluarkan makian yang menurut saya sangat tidak sopan disampaikan kepada orang yang lebih tua?

Tahun berganti, begitu pula penguasa PSSI. Sejak Kardono hingga saat ini Djohar Arifin Husin, hanya nama Agum Gumelar yang sepi dari makian penonton di Stadion Utama Gelora Bung Karno setiap timnas berlaga.

Bila memang kursi Ketua Umum PSSI begitu panas, kenapa ada pertengkaran dalam memperebutkan jabatan tersebut hingga mengorbankan olah raga itu sendiri?
Di Pekanbaru, waktu saya untuk bernostalgia tak ingin terkubur dalam pembahasan yang seolah tak berujung.

Tapi, saya meninggalkan Kota Minyak itu dengan pertanyaan: kenapa jabatan Ketua Umum PSSI itu diperebutkan? Benarkah murni karena aspek olah raga dan prestasi anak bangsa?

Rasanya, masing-masing kita punya sebuah lagu nostalgia yang ketika diper­dengar­kan tanpa sengaja sontak membawa kita ke tahun yang telah berlalu.

Nostalgia. Akhir tahun lalu, saya mudik ke kampung halaman, daerah kelahiran dan tempat saya dibesarkan. Namanya Rumbai. Sebuah kecamatan di Kota Pekanbaru, Riau.

Selain melihat kompleks perumahan, yang kini jauh lebih sepi dari era ketika saya dan teman-teman sepermainan beraktivitas, nostalgia itu juga membawa saya ke sebuah lapangan sepak bola.

Di lapangan tersebut, terdapat banyak kenangan yang ikut berperan membawa saya menjadi wartawan olah raga saat ini.

Lapangan tempat saya pernah membantu tim sekolah menjuarai Piala Cendana, sebuah turnamen sepak bola antar-SMA di Riau. Sebuah nostalgia yang tak pernah lekang dari ingatan saya.

Ada juga sebuah ucapan lain tentang nostalgia yang tanpa sadar kerap kita praktikkan.

Florence King, penulis wanita dari Amerika Serikat, mengingatkan betapa nostalgia itu punya kekuatan yang mampu mengubur hal yang tak kita inginkan.

Katanya, “Nostalgia merupa­kan perasaan yang sangat kuat yang dimiliki manusia yang mampu meredam sesuatu yang tidak ingin kita kenang.”

Perjumpaan dengan se­jum­lah rekan dan kenalan di Pekan­baru tak bisa lepas dari pem­bicaraan seputar sepak bola?

Tentang kenangan menye­nang­kan di kejuaraan sepak bola SMA itu? Tidak, pem­bica­raan kami tak melulu soal itu.

Saya tak bisa menghindari topik seputar perkembangan sepak bola nasional dan PSSI, sebagai federasi olah raga terpopuler di Tanah Air.

Ada suara yang menegaskan sikapnya tak percaya bahwa dunia sepak bola kita bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ia ingin mengubur kenangan tak sedap yang pernah dirasakan.

Lalu, ada pembahasan yang kemudian menghangatkan pembicaraan kami. Sebuah perdebatan tentang jabatan Ketua Umum PSSI.

Benarkah jabatan ini tergolong “lahan basah” atau sebuah “kendaraan” untuk mencapai ambisi yang lebih tinggi lagi?

Apakah menjadi Ketua Umum PSSI itu bakal kaya karena menerima gaji “wah” ataukah malah harus mengeluarkan banyak uang demi sasaran yang lebih besar?

Sungguh bincang-bincang yang menarik ketika masing-masing pihak yang terlibat dalam diskusi punya pandangan soal popularitas petinggi PSSI.

“Ah, sejak dulu Ketua Umum PSSI jauh lebih ngetop dibanding para pemain sepak bola. Aneh, padahal prestasi tim nasional tak pernah membanggakan di era mereka.”

***

Bila Anda ditanya, nama siapa yang muncul sebagai Ketua Umum PSSI terbaik dalam tiga dekade terakhir?

Saya “melek” drama sepak bola di era kepemimpinan Kardono (1983-1991).

Tak lama setelah memulai kegiatan sebagai penghuni baru di ibu kota pada awal 1990-an, olok-olok dan makian terhadap Kardono menjadi suara domi­nan di dalam Stadion Senayan.

Sebuah sikap dan perbuatan yang sungguh asing bagi saya. Bagaimana mungkin para remaja ibu kota bisa mengeluarkan makian yang menurut saya sangat tidak sopan disampaikan kepada orang yang lebih tua?

Tahun berganti, begitu pula penguasa PSSI. Sejak Kardono hingga saat ini Djohar Arifin Husin, hanya nama Agum Gumelar yang sepi dari makian penonton di Stadion Utama Gelora Bung Karno setiap timnas berlaga.

Bila memang kursi Ketua Umum PSSI begitu panas, kenapa ada pertengkaran dalam memperebutkan jabatan tersebut hingga mengorbankan olah raga itu sendiri?

Di Pekanbaru, waktu saya untuk bernostalgia tak ingin terkubur dalam pembahasan yang seolah tak berujung.

Tapi, saya meninggalkan Kota Minyak itu dengan pertanyaan: kenapa jabatan Ketua Umum PSSI itu diperebutkan? Benarkah murni karena aspek olah raga dan prestasi anak bangsa?

Sumber: Bolanews

Tags: pssi
ShareTweetPin
Previous Post

6 Klub Divisi Utama Ikuti Piala Bupati Cilacap

Next Post

Juli Nanti, Frank Lampard Hijrah ke New York

BERITA BOLA LAINNYA

Pelatih Aceh Ini Bersiap Cetak Sejarah Bersama Tim Sulawesi

Pelatih Aceh Ini Bersiap Cetak Sejarah Bersama Tim Sulawesi

12/06/2026 - 14:49 WIB
Ini Jadwal PSAP Sigli dan Al Farlaky FC di 64 Besar Liga 4 Nasional

PSAP dan Al Farlaky Gagal ke 32 Besar Liga 4 Nasional

06/06/2026 - 17:49 WIB
Saddil Ramdani Siap Buktikan Diri di Era John Herdman

Saddil Ramdani Siap Buktikan Diri di Era John Herdman

05/06/2026 - 17:25 WIB
Revan Kejar Mimpi Bersama Timnas Futsal U-17 Indonesia

Revan Kejar Mimpi Bersama Timnas Futsal U-17 Indonesia

01/06/2026 - 15:44 WIB
Ini Jadwal PSAP Sigli dan Al Farlaky FC di 64 Besar Liga 4 Nasional

Ini Jadwal PSAP Sigli dan Al Farlaky FC di 64 Besar Liga 4 Nasional

29/05/2026 - 23:49 WIB
Talenta Aceh Tembus Timnas Futsal, Revan Ikut TC U-17 Jelang ke Spanyol

Talenta Aceh Tembus Timnas Futsal, Revan Ikut TC U-17 Jelang ke Spanyol

29/05/2026 - 20:23 WIB
Klub Zulfiandi Dukung Erick Thohir Jadi Ketua Umum PSSI

Piala Presiden 2026 Bukti Sepak Bola Pemersatu dari Akar Rumput

14/05/2026 - 21:03 WIB
Persiraja Berharap Ikut Piala Presiden, Ini Kata Manajemen

Piala Presiden 2026 Resmi Digelar, 2 Klub Aceh Siap Tempur

14/05/2026 - 20:57 WIB
Delapan Tim Melaju ke 8 Besar EPA U-19, Persiraja Terbenam

Delapan Tim Melaju ke 8 Besar EPA U-19, Persiraja Terbenam

07/05/2026 - 15:19 WIB
Persiraja U-19 Kembali Tumbang dari Skuat Sumsel United

Persiraja U-19 “Incar” Kekalahan Ketujuh EPA Championship

02/05/2026 - 07:14 WIB
Load More

Komentar

90 MENIT TERPOPULER

  • Persiraja Umumkan Tujuh Pemain, Jaya Hartono Bentuk Tim Baru

    Persiraja Umumkan Tujuh Pemain, Jaya Hartono Bentuk Tim Baru

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Muhammad Reza Naik Kelas, Resmi Gabung Adhyaksa FC

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ilham Udin: Mungkin Memang Rezeki Saya di Persiraja

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Eks Arema FC, Jayus Hariono dan Dwiki Mardianto Perkuat Persiraja

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nasib Liga 1 Tak Menentu, Persiraja Akan Pulang Ke Aceh

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

KLASEMEN

UPDATE TERBARU

Real Madrid Tidak Butuh Revolusi, Kata Carvajal

Zidane Latih Timnas Prancis, Gaji Tembus Rp111 Miliar per Tahun

30/07/2026
Eropa ‘Latin’ vs Amerika Latin, Siapa yang Jadi Raja Dunia?

Sepak Bola Aceh Jangan Seperti Seulawah RI 001

30/07/2026
Ilham Udin: Mungkin Memang Rezeki Saya di Persiraja

Ilham Udin: Mungkin Memang Rezeki Saya di Persiraja

28/07/2026
Persada U-17 Abdya Pulang, Ribuan Warga Sambut Sang Juara

Persada U-17 Abdya Pulang, Ribuan Warga Sambut Sang Juara

28/07/2026
Eks Arema FC, Jayus Hariono dan Dwiki Mardianto Perkuat Persiraja

Eks Arema FC, Jayus Hariono dan Dwiki Mardianto Perkuat Persiraja

27/07/2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Fans Menulis
  • Terms of use
  • Aturan Media Siber

© 2020 - CV. Pedagangkata Aceh Media (Pekame). Made with in Indonesia
Developed by PT. Harian Aceh Indonesia

No Result
View All Result
  • HOME
  • BOLA ACEH
  • BOLANESIA
  • PIALA DUNIA
  • ANALISIS
  • A-SPORT
  • LIGA DUNIA
  • FUTSAL
  • PERSIRAJA
  • FANTASY
  • TV
  • Login

© 2020 - CV. Pedagangkata Aceh Media (Pekame). Made with in Indonesia
Developed by PT. Harian Aceh Indonesia