• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Fans Menulis
  • Terms of use
  • Aturan Media Siber
Rabu, April 29, 2026
ACEHFOOTBALL.net
  • HOME
  • BOLA ACEH
  • BOLANESIA
  • LIGA DUNIA
  • FUTSAL
  • A-SPORT
  • ANALISIS
  • PERSIRAJA
  • FANTASY
  • TV
No Result
View All Result
ACEHFOOTBALL.net
Rabu, April 29, 2026
No Result
View All Result
ACEHFOOTBALL.net
No Result
View All Result

Kursi Ketua Umum PSSI

MW Kuba MW Kuba
Minggu, 11/01/2015 - 18:31 WIB
in Nasional, Sepakbola Indonesia
Share on FacebookShare on Twitter

Sebuah ungkapan menyebut bahwa dibutuhkan satu lagu untuk mengembalikan seribu kenangan. Setuju?

Rasanya, masing-masing kita punya sebuah lagu nostalgia yang ketika diper­dengar­kan tanpa sengaja sontak membawa kita ke tahun yang telah berlalu.

Nostalgia. Akhir tahun lalu, saya mudik ke kampung halaman, daerah kelahiran dan tempat saya dibesarkan. Namanya Rumbai. Sebuah kecamatan di Kota Pekanbaru, Riau.

Selain melihat kompleks perumahan, yang kini jauh lebih sepi dari era ketika saya dan teman-teman sepermainan beraktivitas, nostalgia itu juga membawa saya ke sebuah lapangan sepak bola.

INFO BOLALAINNYA

Jadwal Pekan Ke-5: Ada Duel Tim Papan Bawah di Grup Barat

Pekan ke-21: Persaingan Promosi Memanas, Derbi Sumsel Tersaji

24/02/2026 - 20:59 WIB
Sentuhan Pelatih Asal Aceh Antar Unaaha FC Juara Liga 4 Sultra

Sentuhan Pelatih Asal Aceh Antar Unaaha FC Juara Liga 4 Sultra

24/02/2026 - 20:49 WIB
Dua Klub Korea Selatan Memilih Training Camp di Bali

Dua Klub Korea Selatan Memilih Training Camp di Bali

14/02/2026 - 12:37 WIB
Erick Thohir Serukan Pembersihan Praktik Pemain Titipan dalam Sepak Bola

PSSI Segarkan Komite Yudisial, Erick Thohir Dorong Penegakan Disiplin Lebih Profesional

16/09/2025 - 21:55 WIB

Di lapangan tersebut, terdapat banyak kenangan yang ikut berperan membawa saya menjadi wartawan olah raga saat ini.

Lapangan tempat saya pernah membantu tim sekolah menjuarai Piala Cendana, sebuah turnamen sepak bola antar-SMA di Riau. Sebuah nostalgia yang tak pernah lekang dari ingatan saya.

Ada juga sebuah ucapan lain tentang nostalgia yang tanpa sadar kerap kita praktikkan.
Florence King, penulis wanita dari Amerika Serikat, mengingatkan betapa nostalgia itu punya kekuatan yang mampu mengubur hal yang tak kita inginkan.

Katanya, “Nostalgia merupa­kan perasaan yang sangat kuat yang dimiliki manusia yang mampu meredam sesuatu yang tidak ingin kita kenang.”

Perjumpaan dengan se­jum­lah rekan dan kenalan di Pekan­baru tak bisa lepas dari pem­bicaraan seputar sepak bola?

Tentang kenangan menye­nang­kan di kejuaraan sepak bola SMA itu? Tidak, pem­bica­raan kami tak melulu soal itu.

Saya tak bisa menghindari topik seputar perkembangan sepak bola nasional dan PSSI, sebagai federasi olah raga terpopuler di Tanah Air.

Ada suara yang menegaskan sikapnya tak percaya bahwa dunia sepak bola kita bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ia ingin mengubur kenangan tak sedap yang pernah dirasakan.

Lalu, ada pembahasan yang kemudian menghangatkan pembicaraan kami. Sebuah perdebatan tentang jabatan Ketua Umum PSSI.

Benarkah jabatan ini tergolong “lahan basah” atau sebuah “kendaraan” untuk mencapai ambisi yang lebih tinggi lagi?

Apakah menjadi Ketua Umum PSSI itu bakal kaya karena menerima gaji “wah” ataukah malah harus mengeluarkan banyak uang demi sasaran yang lebih besar?

Sungguh bincang-bincang yang menarik ketika masing-masing pihak yang terlibat dalam diskusi punya pandangan soal popularitas petinggi PSSI.

“Ah, sejak dulu Ketua Umum PSSI jauh lebih ngetop dibanding para pemain sepak bola. Aneh, padahal prestasi tim nasional tak pernah membanggakan di era mereka.”

***
Bila Anda ditanya, nama siapa yang muncul sebagai Ketua Umum PSSI terbaik dalam tiga dekade terakhir?
Saya “melek” drama sepak bola di era kepemimpinan Kardono (1983-1991).

Tak lama setelah memulai kegiatan sebagai penghuni baru di ibu kota pada awal 1990-an, olok-olok dan makian terhadap Kardono menjadi suara domi­nan di dalam Stadion Senayan.

Sebuah sikap dan perbuatan yang sungguh asing bagi saya. Bagaimana mungkin para remaja ibu kota bisa mengeluarkan makian yang menurut saya sangat tidak sopan disampaikan kepada orang yang lebih tua?

Tahun berganti, begitu pula penguasa PSSI. Sejak Kardono hingga saat ini Djohar Arifin Husin, hanya nama Agum Gumelar yang sepi dari makian penonton di Stadion Utama Gelora Bung Karno setiap timnas berlaga.

Bila memang kursi Ketua Umum PSSI begitu panas, kenapa ada pertengkaran dalam memperebutkan jabatan tersebut hingga mengorbankan olah raga itu sendiri?
Di Pekanbaru, waktu saya untuk bernostalgia tak ingin terkubur dalam pembahasan yang seolah tak berujung.

Tapi, saya meninggalkan Kota Minyak itu dengan pertanyaan: kenapa jabatan Ketua Umum PSSI itu diperebutkan? Benarkah murni karena aspek olah raga dan prestasi anak bangsa?

Rasanya, masing-masing kita punya sebuah lagu nostalgia yang ketika diper­dengar­kan tanpa sengaja sontak membawa kita ke tahun yang telah berlalu.

Nostalgia. Akhir tahun lalu, saya mudik ke kampung halaman, daerah kelahiran dan tempat saya dibesarkan. Namanya Rumbai. Sebuah kecamatan di Kota Pekanbaru, Riau.

Selain melihat kompleks perumahan, yang kini jauh lebih sepi dari era ketika saya dan teman-teman sepermainan beraktivitas, nostalgia itu juga membawa saya ke sebuah lapangan sepak bola.

Di lapangan tersebut, terdapat banyak kenangan yang ikut berperan membawa saya menjadi wartawan olah raga saat ini.

Lapangan tempat saya pernah membantu tim sekolah menjuarai Piala Cendana, sebuah turnamen sepak bola antar-SMA di Riau. Sebuah nostalgia yang tak pernah lekang dari ingatan saya.

Ada juga sebuah ucapan lain tentang nostalgia yang tanpa sadar kerap kita praktikkan.

Florence King, penulis wanita dari Amerika Serikat, mengingatkan betapa nostalgia itu punya kekuatan yang mampu mengubur hal yang tak kita inginkan.

Katanya, “Nostalgia merupa­kan perasaan yang sangat kuat yang dimiliki manusia yang mampu meredam sesuatu yang tidak ingin kita kenang.”

Perjumpaan dengan se­jum­lah rekan dan kenalan di Pekan­baru tak bisa lepas dari pem­bicaraan seputar sepak bola?

Tentang kenangan menye­nang­kan di kejuaraan sepak bola SMA itu? Tidak, pem­bica­raan kami tak melulu soal itu.

Saya tak bisa menghindari topik seputar perkembangan sepak bola nasional dan PSSI, sebagai federasi olah raga terpopuler di Tanah Air.

Ada suara yang menegaskan sikapnya tak percaya bahwa dunia sepak bola kita bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ia ingin mengubur kenangan tak sedap yang pernah dirasakan.

Lalu, ada pembahasan yang kemudian menghangatkan pembicaraan kami. Sebuah perdebatan tentang jabatan Ketua Umum PSSI.

Benarkah jabatan ini tergolong “lahan basah” atau sebuah “kendaraan” untuk mencapai ambisi yang lebih tinggi lagi?

Apakah menjadi Ketua Umum PSSI itu bakal kaya karena menerima gaji “wah” ataukah malah harus mengeluarkan banyak uang demi sasaran yang lebih besar?

Sungguh bincang-bincang yang menarik ketika masing-masing pihak yang terlibat dalam diskusi punya pandangan soal popularitas petinggi PSSI.

“Ah, sejak dulu Ketua Umum PSSI jauh lebih ngetop dibanding para pemain sepak bola. Aneh, padahal prestasi tim nasional tak pernah membanggakan di era mereka.”

***

Bila Anda ditanya, nama siapa yang muncul sebagai Ketua Umum PSSI terbaik dalam tiga dekade terakhir?

Saya “melek” drama sepak bola di era kepemimpinan Kardono (1983-1991).

Tak lama setelah memulai kegiatan sebagai penghuni baru di ibu kota pada awal 1990-an, olok-olok dan makian terhadap Kardono menjadi suara domi­nan di dalam Stadion Senayan.

Sebuah sikap dan perbuatan yang sungguh asing bagi saya. Bagaimana mungkin para remaja ibu kota bisa mengeluarkan makian yang menurut saya sangat tidak sopan disampaikan kepada orang yang lebih tua?

Tahun berganti, begitu pula penguasa PSSI. Sejak Kardono hingga saat ini Djohar Arifin Husin, hanya nama Agum Gumelar yang sepi dari makian penonton di Stadion Utama Gelora Bung Karno setiap timnas berlaga.

Bila memang kursi Ketua Umum PSSI begitu panas, kenapa ada pertengkaran dalam memperebutkan jabatan tersebut hingga mengorbankan olah raga itu sendiri?

Di Pekanbaru, waktu saya untuk bernostalgia tak ingin terkubur dalam pembahasan yang seolah tak berujung.

Tapi, saya meninggalkan Kota Minyak itu dengan pertanyaan: kenapa jabatan Ketua Umum PSSI itu diperebutkan? Benarkah murni karena aspek olah raga dan prestasi anak bangsa?

Sumber: Bolanews

Tags: pssi
ShareTweetPin
Previous Post

6 Klub Divisi Utama Ikuti Piala Bupati Cilacap

Next Post

Juli Nanti, Frank Lampard Hijrah ke New York

BERITA BOLA LAINNYA

103 Tim Berebut Tahta, Piala Soeratin Nasional 2025 Panaskan Tiga Kota

103 Tim Berebut Tahta, Piala Soeratin Nasional 2025 Panaskan Tiga Kota

04/09/2025 - 20:59 WIB
Tim Aceh Hadapi Persaingan Ketat di Piala Soeratin Nasional

Tim Aceh Hadapi Persaingan Ketat di Piala Soeratin Nasional

29/08/2025 - 11:17 WIB
PSSI Tunjuk Alexander Zwiers sebagai Direktur Teknik Baru

PSSI Tunjuk Alexander Zwiers sebagai Direktur Teknik Baru

25/08/2025 - 17:32 WIB
PSSI Gelar Piala Kemerdekaan di Medan, Ini Target Besarnya

PSSI Gelar Piala Kemerdekaan di Medan, Ini Target Besarnya

01/08/2025 - 09:08 WIB
PSSI Gelar Pelatihan Match Commissioner untuk Kompetisi 2025/26

PSSI Gelar Pelatihan Match Commissioner untuk Kompetisi 2025/26

31/07/2025 - 11:25 WIB
AFC Kabulkan Permintaan PSSI, Jadwal Timnas Indonesia Disesuaikan

AFC Kabulkan Permintaan PSSI, Jadwal Timnas Indonesia Disesuaikan

25/07/2025 - 19:55 WIB
PSSI: Indonesia Butuh 36 Ribu Pelatih, Baru Tersedia 15 Ribu

PSSI: Indonesia Butuh 36 Ribu Pelatih, Baru Tersedia 15 Ribu

23/07/2025 - 08:27 WIB
Erick Thohir Serukan Pembersihan Praktik Pemain Titipan dalam Sepak Bola

Erick Thohir Serukan Pembersihan Praktik Pemain Titipan dalam Sepak Bola

20/07/2025 - 08:58 WIB
PSSI Gelar FIFA MA Course untuk Tingkatkan Kualitas Wasit

PSSI Gelar FIFA MA Course untuk Tingkatkan Kualitas Wasit

15/07/2025 - 22:09 WIB
PSSI dan FIFA Gelar Workshop dan Kamp Pemain Muda Serentak di Yogyakarta

PSSI dan FIFA Gelar Workshop dan Kamp Pemain Muda Serentak di Yogyakarta

12/07/2025 - 11:48 WIB
Load More

Komentar

90 MENIT TERPOPULER

  • Pekan Terakhir: Penentuan Takdir di Detik Akhir Liga 2

    Pekan Terakhir: Penentuan Takdir di Detik Akhir Liga 2

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Terpuruk di Dasar Klasemen, Persiraja U-19 Kembali Tumbang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PSS Sleman Wajib Menang di Laga Terakhir Demi Promosi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putaran Nasional Liga 4 Segera Bergulir, Diikuti 64 Klub

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Persiraja Hanya Bawa 15 Pemain Ke Kandang Persekat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

KLASEMEN

UPDATE TERBARU

Pekan Terakhir: Penentuan Takdir di Detik Akhir Liga 2

Pekan Terakhir: Penentuan Takdir di Detik Akhir Liga 2

28/04/2026
PSS Sleman Jaga Tren Sempurna, Begini Kata Ansyari Lubis

PSS Sleman Wajib Menang di Laga Terakhir Demi Promosi

27/04/2026
Ansyari Akui PSS Sleman Waspadai Militansi Persiba di Batakan

Ansyari Akui PSS Sleman Waspadai Militansi Persiba di Batakan

26/04/2026
Persiraja Pulihkan Kondisi Pemain Jelang Hadapi Ujian Berat

Jaya Hartono Siap Bikin Kejutan Saat Ladeni Persekat

26/04/2026
Gol Arif Setiawan Buyar, PSMS Gagal Kunci Tiga Poin

Gol Arif Setiawan Buyar, PSMS Gagal Kunci Tiga Poin

26/04/2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Fans Menulis
  • Terms of use
  • Aturan Media Siber

© 2020 - CV. Pedagangkata Aceh Media (Pekame). Made with in Indonesia
Developed by PT. Harian Aceh Indonesia

No Result
View All Result
  • HOME
  • BOLA ACEH
  • BOLANESIA
  • LIGA DUNIA
  • FUTSAL
  • A-SPORT
  • ANALISIS
  • PERSIRAJA
  • FANTASY
  • TV
  • Login

© 2020 - CV. Pedagangkata Aceh Media (Pekame). Made with in Indonesia
Developed by PT. Harian Aceh Indonesia