ACEHFOOTBALL.net — Perjalanan Persiraja Banda Aceh U-19 di ajang EPA Championship U-19 kian diabaikan. Bertanding di Lapangan 2 Akademi Sepak Bola Garudayaksa, Bekasi, Rabu (29/4/2026).
Laskar Rencong Muda kembali menelan kekalahan, kali ini dari PSPS Riau U-19 dengan skor tipis 2-3. Hasil ini memperpanjang tren negatif mereka menjadi tujuh laga tanpa kemenangan.
Tim muda Persiraja kini mencatat enam kekalahan dan hanya sekali imbang sepanjang kompetisi. Catatan ini membuat mereka semakin terbenam di dasar klasemen Grup A, jauh dari persaingan tim-tim lain yang mulai menjauh.
PSPS Riau U-19 tampil agresif sejak awal laga. Mereka langsung membuka keunggulan cepat melalui Hendika Pratama pada menit ke-7.
Gol tersebut menjadi sinyal dominasi tim tuan rumah yang tampil lebih efektif dalam memanfaatkan peluang.
Tekanan PSPS melanjutkan dan menghasilkan hasil di pertengahan babak pertama. Jenico RSK Nijaya menjadi mimpi buruk bagi lini belakang Persiraja setelah mencetak dua gol beruntun pada menit ke-31 dan 36.
Skor 3-0 menutup babak pertama, sekaligus menunjukkan rapuhnya koordinasi pertahanan Persiraja.
Memasuki babak kedua, Persiraja mencoba bangkit. Perubahan pendekatan permainan mulai terlihat dengan keberanian menyerang lebih tinggi.
Upaya tersebut membuahkan hasil lewat gol Carlos Teves Bianome pada menit ke-59 yang memperkecil ketertinggalan menjadi 1-3.
Semangat Persiraja semakin meningkat di sisa laga. Khairu Salih kembali memberi harapan setelah mencetak gol kedua pada menit ke-82.
Namun, waktu yang tersisa tidak cukup bagi Persiraja untuk mengejar ketertinggalan. Skor 3-2 bertahan hingga peluit akhir dibunyikan.
Kekalahan ini menegaskan persoalan klasik yang terus menghantui Persiraja U-19, yakni lemahnya organisasi pertahanan dan inkonsistensi sepanjang laga.
Mereka sering terlambat musim panas dan baru mampu menunjukkan performa terbaiknya saat sudah tertinggal jauh.
Di sisi lain, hasil ini mengukuhkan posisi Sumsel United U-19 di puncak klasemen dengan koleksi 17 poin, semakin menjauh dari kejaran tim lain.
Bagi Persiraja, situasi ini bukan sekadar soal hasil, tetapi juga krisis kinerja yang membutuhkan evaluasi menyeluruh.
Tanpa perbaikan yang signifikan, Laskar Rencong Muda berpotensi menutup musim dengan catatan yang sulit dilupakan—bukan karena prestasi, melainkan keterpurukan.




















Komentar