Martunis kini sudah di negerinya maha bintang Ronaldo. Banyak kisah dibalik semua pencapaian itu. Keberuntungan Martunis datang sebagai berkah dari sebuah musibah maha dahsyat abad ini yaitu tsunami. Karena kaus murahan Portugal.
Martunis memakai kaus itu saat diserat tsunami sampai ditemukan selamat. Kisah ini kemudian ditulis media. Tak dinyana berita itu sampai ke Ronaldo. Dan kemudian keberuntungan menghinggapi Martunis. Sejak itu dia berlebel anak angkat maha bintang. Setelah 10 tahun dunia dikejutkan dengan diundang Martunis sekolah bola di sana.
Di sekolah tempat Ronaldo digembleng dan menjadi maha bintang kini. Apa yang dapat dipetik dari peristiwa ini?
“Ronaldo saja yang orang lain mau peduli, apalagi kita yang sama sama Aceh dan sama sama korban tsunami,” begitu sepotong ucapan pembimbing Martunis.
Adalah Munawardi Ismail yang selama ini mengurusi Martunis sampai kini sudah diambang cita citanya. Petikan ucapan Munawardi sebenarnya menampar wajah kita. Bayangkan saja hanya kebetulan Martunis memakai baju lusuh Portugal. Tapi kemudian sang bintang dan bangsa Portugal begitu menghargai Martunis.
Sekarang kita tanya kepada diri kita, kepada pemimpin kita. Peran apa yang pernah kita berikan untuk Martunis? Sehingga kini kita begitu bangga dengan bocah berkulit gelap itu. Peristiwa Martunis hanya salah satunya.
Banyak hal yang lain dari bangsa ini lalai kita hargai. Lalai kita ambil momentumnya. Bagi Ronaldo dan bangsa Portugal, Martunis bukanlah sesuatu yang hebat dalam pencapaian. Tapi kasus kaus yang diekpose media mereka ambil sebagai momentum.
Momentum menunjukkan pada dunia empati mereka terhadap sesuatu yang terkait dengan mereka. Kemudian mereka kreasi menjadi sebuah kebanggaan. Dikenang dan diceritakan banyak orang. Keuntungan materi tidak mereka ambil dengan peristiwa ini. Tapi nama baik dan kemegahan dipastikan berbuah materi. Ini yang tidak kita sadari oleh bangsa kita.
Bahkan seukuran Aceh spertinya tidak penting bagi bagi pemerintah kita. Kita pendek akal dan pendek ilmu. Ada kemungkinan dalam pikiran para elit kita peduli terhadap peristiwa model ini akan menguras kantong mereka. Akan membuat mereka ribet.
Kita terlalu pendek akal dan pendek ilmu. Selalu melihat sesuatu dengan ukuran pragmatisme. Contoh lain barangkali bagaimana dekatnya para Caleg atau calon gubernurbupatiwalikota di masa kampanye. Tapi setelah terpilih jangan harap ada kehangatan itu lagi. Kenapa karena kita melihat bahwa interaksi seramah masa kampanye membutuhkan biaya. Membutuhkan tenaga dan pikiran. Makanya pasca menang politisi kita umumnya menjauhi konstituennya.
Adakah yang berani membantah ini? Kembali ke peristiwa Martunis. Kita bukan ingin menyanjung bangsa lain. Tapi patutlah kita belajar dari mereka. Bagaimana sebuah peristiwa kecil (kaos Portugal-red) mereka kreasikan menjadi mereka untuk mempromosikan bangsa mereka. Bagi bangsa kita kita juga ingin melihat sebuah peristiwa dalam skala yang lebih luas.
Contohnya tsunami itu sendiri. Bayangkan gema musibah itu. Tsunami Aceh telah menggugah dunia. Sumbangan yang tidak pernah ada dalam sejarah begitu melibatkan semua penduduk bumi. Aceh begitu terkenal dengan peristiwa itu. Tapi pasca rehab rekon nilai tambah apa yang berhasil kita dapat.
Kini dunia hampir lupa dengan aceh dan peristiwa maha dahsyat itu. Dan hari hari ini Martunis-lah kembali menjadi pahlawan. Semua media dunia menulis kembali peristiwa itu. Tapi lagi lagi kita tidak merasakan manfaatnya.
Kita gagal memetik hasilnya untuk hari ini dan kedepannya. Bayangkan bila peristiwa itu dan situs tsunami berhasil kita jual sebagai komoditas pariwisata. Kita promosikan berbagai event terkait tsunami seperti napak tilas. Kita bangun berbagai monumen. Bahkan kita besar besarkan Martunis dengan mengaitkan nama besar Ronaldo. Sayangnya kita tak mampu melakukannya. Kita terlanjur dilahirkan sebagai bangsa yang cuma bisa berpikir pendek.
Cuma sebatas pandangan mata. Ukuran kita cuma sebatas perut dan sepenggal nafsu. Martunis bukan satu satunya kebanggaan kita. Ada banyak hal yang positif ditakdir Allah lahir dinegeri ini. Tapi Allah mungkin saja belum memanjangkan pikiran kita. Belum membuka daya kreatifitas kita.
Tapi kita harus ingat Allah sudah mengingatkan bahwa tidak akan diubah nasib sebuah kaum kecuali atas usaha kaum itu sendiri. Penekanannya pada kata “kaum” bukan kata “kamu”. Yang berarti kaum adalah beberapa orang alias banyak orang dengan komunitas dan tujuan yang sama. Jadi silahkan renungi benarkah kita bangsa “teuleubeh” seperti yang kita agung-agungkan? Wallahualam.
Berita ini disiarkan atas kerjasama Media Officer Martunis ACEHFOOTBALL.com dengan Portalsatu.com






Komentar