ACEHFOOTBALL.net — Persoalan biaya pendaftaran kompetisi menjadi salah satu perhatian bakal calon Ketua PSSI Aceh, Muslim MS SE CP LA.
Jika terpilih dalam Kongres PSSI Aceh pada 3 Oktober 2026, ia berjanji menghapus biaya administrasi pendaftaran Liga 4 dan Piala Soeratin U-17, U-15, dan U-13.
Program tersebut ditawarkan Muslim MS, yang akrab disapa Keuchik Muslim, setelah resmi mendaftarkan diri sebagai bakal calon Ketua PSSI Aceh di Kantor PSSI Aceh, Lhoong Raya, Kecamatan Banda Raya, Banda Aceh, Jumat (4/9/2026) sore.
Muslim mengatakan, kebijakan tersebut bukan sekadar upaya meringankan beban klub. Ia ingin menjadikan penghapusan biaya pendaftaran sebagai pintu masuk untuk menghidupkan kembali klub-klub sepak bola Aceh yang selama ini vakum karena keterbatasan biaya.
“Kalau klub-klub kita banyak yang vakum karena persoalan biaya, bagaimana sepak bola Aceh mau berkembang? Karena itu, kita akan gratiskan biaya pendaftaran,” kata Muslim.
Menurutnya, klub yang mengikuti Liga 4 saat ini harus menyiapkan biaya pendaftaran sekitar Rp10 juta. Sementara Piala Soeratin untuk kelompok umur U-17, U-15, dan U-13 dikenakan sekitar Rp5 juta per klub.
Bagi klub-klub yang memiliki keterbatasan finansial, kata dia, biaya tersebut dapat menjadi salah satu hambatan untuk kembali mengikuti kompetisi.
Karena itu, jika dipercaya memimpin Asprov PSSI Aceh, Muslim berkomitmen menghapus biaya tersebut dan hanya memberlakukan administrasi dalam jumlah yang wajar.
“Tujuannya agar klub-klub yang selama ini vakum bisa hidup kembali dan memiliki kesempatan mengikuti Liga 4 maupun Piala Soeratin,” ujarnya.
Muslim tidak hanya menawarkan penghapusan biaya pendaftaran. Ia juga menjanjikan uang pembinaan bagi klub yang menjadi juara Liga 4 dan Piala Soeratin pada seluruh kelompok umur.
Menurutnya, kompetisi harus memberikan manfaat lebih bagi klub. Selain menjadi ruang pertandingan, kompetisi juga harus mampu mendorong klub membangun pembinaan secara berkelanjutan.
“Kita tidak hanya akan membebaskan biaya pendaftaran, tetapi juga memberikan uang pembinaan kepada juara Liga 4 dan Piala Soeratin U-17, U-15, dan U-13,” tegasnya.
Muslim juga menyiapkan agenda kompetisi lain untuk memperluas ruang bermain klub-klub Aceh.
Salah satunya adalah menghidupkan kembali kompetisi antarklub se-Aceh memperebutkan Piala Gubernur Aceh. Kompetisi tersebut diharapkan menjadi wadah bagi klub yang selama ini tidak aktif dalam kompetisi resmi.
Di level pembinaan usia dini, ia menawarkan turnamen SSB U-12 dan U-10 se-Aceh memperebutkan Piala Ketua Asprov PSSI Aceh.
Turnamen tersebut ditargetkan berlangsung minimal dua kali dalam setahun atau setiap enam bulan.

“Untuk usia dini, kita akan menggelar turnamen SSB U-12 dan U-10 se-Aceh paling kurang enam bulan sekali, sehingga dalam setahun bisa dua kali dilaksanakan,” katanya.
Sementara untuk pemain senior, Muslim berencana menjadikan turnamen Legend U-45 antarkabupaten/kota se-Aceh sebagai agenda tahunan.
Andalkan Subsidi dan Sponsor
Muslim menyadari pelaksanaan berbagai program tersebut membutuhkan dukungan pembiayaan. Karena itu, ia menyebut akan mengoptimalkan subsidi dari PSSI pusat sekaligus membuka ruang kerja sama dengan sponsor.
“Kita akan menggunakan anggaran subsidi dari PSSI Pusat serta mencari sponsor untuk mendukung pelaksanaan kompetisi Liga 4 dan Piala Soeratin di semua usia,” ujarnya.
Ia menegaskan seluruh program tersebut tidak akan dijalankan sekaligus, tetapi secara bertahap selama empat tahun masa kepengurusan apabila mendapat mandat dari para voter.
“Kalau amanah ini diberikan kepada saya, program-program tersebut akan kita jalankan secara bertahap selama empat tahun kepengurusan,” kata Muslim.
Bagi Muslim, persoalan utama sepak bola Aceh bukan semata-mata mencari pemain berbakat. Talenta membutuhkan kompetisi, klub membutuhkan ruang hidup, dan kompetisi membutuhkan klub yang mampu bertahan.
Karena itu, ia ingin menjadikan penguatan klub dan kompetisi sebagai salah satu fondasi pembenahan sepak bola Aceh dalam empat tahun ke depan. []






















