Muliadi terpaksa harus mengubur mimpinya untuk dapat memperkuat Tim Pra PON Aceh. Remaja berusia 17 tahun asal Lamno, Aceh Jaya, memilih melanjutkan pendidikan, ketimbang berjibaku di lapangan hijau. Karena dia takut tidak naik kelas lagi. Lho kok bisa?
Sebelumnya, Muliadi pernah merasakan pahitnya tinggal kelas saat masih duduk di kelas satu. Saat itu, ia tinggal kelas karena tak dapat dukungan dari sekolahnya, saat bergabung dengan tim Pra PON Remaja Aceh pada tahun 2014.
Takut mengalami kejadian seperti tahun lalu dan juga tak mendapat jaminan untuk kelangsungan pendidikan anaknya, maka orang tua Muliadi memutuskan tak mengizinkan anaknya untuk ikut bergabung pada Pelatda Pra PON Aceh 2015.
“Saya nggak dikasih lagi ikut Pelatda sama orang tua. Kata bapak, nggak ada dukungan dari sekolah maupun asosiasi sepak bola setempat, nanti tinggal kelas lagi,” ungkap Muliadi kepada ACEHFOOTBALL.com saat menirukan nasihat ortunya, di Peulanggahan Banda Aceh, Jumat (4/9/2015) sore.
Muliadi sendiri termasuk kedalam ke-30 nama yang dipilih official team serta tim talent scouting, pada saat ikut penyeleksian yang dihadiri ratusan pesepak bola muda berbakat dari seluruh Aceh.
Dalam daftar ke-30 nama yang dipilih Jessie Mustamu dkk, Muliadi merupakan satu-satunya pemain yang masih berstatus siswa kelas 2 di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Lamno, Aceh Jaya.
Saat membela Aceh pada ajang Pra PON Remaja 2014 di Bangka Belitung, Muliadi dipercaya Akhyar Ilyas yang saat itu sebagai pelatih, menjadi kapten tim.
Pemain yang bermain di sektor depan itu, saat ini merasa sedih, akibat kesempatan yang telah terbuka membela Pra PON Aceh, sekarang tak dapat dibelanya oleh sebab tak mendapat dukungan dari sekolahnya.
Reporter: Eko Densa






Komentar