Kerinduan fans Watford untuk melihat tim kesayangannya berlaga di Premier League terobati akhir pekan ini. Sebelumnya, mereka sudah absen sembilan tahun di kompetisi elite Eropa itu.
Sabtu nanti (8/8/2015) mereka kembali mengawali kiprah di kasta tertinggi kompetisi antarklub di Inggris tersebut. Pada Sabtu mendatang, Watford melawat ke Goodison Park menghadapi Everton.
Duel melawan Everton sekaligus menjadi debut bagi pelatih baru Watford Quique Sanchez Flores. Mantan pelatih Valencia itu resmi ditunjuk menangani Watford pada 5 Juni lalu.
Nah, kendala yang dihadapi Flores lumayan kompleks. Selain harus mampu mengatasi demam lapangan yang sebagian pemainnya masih belum pernah merasakan iklim Premier League, Flores menghadapi kendala bahasa.
Ya, Flores yang berasal dari Spanyol dan baru kali ini menangani klub Inggris harus menghadapi 28 pemain yang berasal dari 22 negara. Komposisinya, 20 pemain berasal dari Benua Eropa, 5 pemain dari Benua Amerika, dan 3 orang lainnya dari Afrika.
Beragamnya latar belakang penggawa Watford tersebut membuat tim berjuluk The Hornets itu tercatat sebagai tim paling multinasional di Premier League. Di antara 28 pemain tadi, hanya gelandang serang Jose Manuel Jurado yang berasal dari negara yang sama dengan Flores.
Gelandang asal Valon Behrami mengungkapkan, dalam setiap kali sesi latihan di Watford FC Training Ground, London, semua awak tim diharuskan berbicara menggunakan bahasa Inggris. ’’Baik itu pemain, maupun pelatih, bisa ataupun tidak fasih berbahasa Inggris,’’ papar Behrami kepada Mirror.
Aturan itu memang cukup bisa mengatasi kendala komunikasi, terutama saat latihan. Namun, kendala dapat muncul lagi ketika laga resmi pada pekan perdana Sabtu mendatang. Flores khawatir terjadi miskomunikasi di lapangan. Terutama saat dia memberikan instruksi di pinggir lapangan.
Ketika pramusim lalu, pria yang pernah menangani Atletico Madrid pada 2009–2011 tersebut kadang harus memberikan instruksi dalam bahasa Spanyol. ’’Saya mengharapkan pemain bisa memahami apa yang terjadi. Kami harus sudah saling mengetahui permainan seperti apa yang ingin kami tunjukkan,’’ tutur dia.
Flores menyatakan, membesut 28 pemain dari 22 negara berbeda adalah pengalaman baru baginya. ’’Ini tidak mudah. Berbeda seperti saat saya melatih di Atletico dan Valencia dulu. Tapi, tidak ada masalah. Semua ini dilakukan demi melatih di kompetisi yang fantastis, Spanyol dan Inggris,’’ tegasnya.
Pria Spanyol berusia 50 tahun tersebut mengungkapkan, kesulitan yang paling utama terkait dengan komunikasi terhadap pemain adalah ketika menjelaskan sistem permainan. Flores sulit menerangkan sistem, model, dan bentuk permainan seperti apa yang ingin dirinya tentukan di Watford.
Tetapi, dari tujuh pertandingan persahabatan yang sudah diberikan bagi Troy Deeney dkk, Flores melihat titik cerah. Meski, di antara tujuh laga tersebut, dua laga terakhir harus dijalani Watford dengan kekalahan, yakni kalah 1-2 dari Cardiff City (29/7) dan 0-1 dari Sevilla (1/8).
’’Di balik kekalahan-kekalahan itu, ada beberapa aspek yang membuat saya masih bisa bangga dengan mereka. Itu bisa kami lihat dari cara mereka menekan lawan. Setiap selesai pertandingan, saya punya feeling bagus dengan masa depan tim ini,’’ tandasnya.
Sumber: jawapos



















Komentar