Liga Ramadhan, Makassar, punya magnet tersendiri bagi pesepakbola profesional di negeri ini. Tiap tahun puluhan bintang ISL ikut berpartisipasi. Mereka menyebar di sejumlah klub.
Tahun ini Liga Ramadhan sudah masuk tahun ke-12. Ada 35 klub kontestan berebut juara. Tapi ternyata ada juga pemilik klub yang tidak terlalu mengutamakan mengejar hadiah uang pembinaan yang disiapkan panitia bagi sang juara.
“Yang utama menjalin tali silaturahmi sesama pemain. Kami nanti bertemu setelah ada turnamen seperti ini. Saya salut dengan panitia. Dua belas tahun bukan waktu yang singkat. Tapi teman-teman di Makassar mampu eksis melakukannya,’’ kata Isnan Ali yang sudah enam tahun selalu hadir di ajang ini.
Memang, jika dibandingkan pengeluaran klub dengan total hadiahnya yang hanya Rp 35 juta, tentu tak sebanding. Malah ibarat kata pepatah, ‘Lebih besar pasak dari pada tiang.’
“Tapi di situlah gengsi dari Liga Ramadhan ini. Di sini, sesama pemain dari seluruh klub di Indonesia bertemu. Pemain proefesioanl dan pemain amatir berbaur dan saling bertukar cerita. Ada canda dan tawa. Di situ seninya,” timpal Hamka Hamsah, eks pemain Timnas senior Indonesia, Kamis (18/6/2015).
“Turnamen ini juga sebagai tempat mengisi waktu bagi pemain saat jeda kompetisi,” timpal Zulkifli yang tahun ini membela Nahusam FC, klub asal Samarinda, Kalimantan Timur.
Bagi pemilik klub amatir di Makassar memakai jasa bintang ISL adalah pertaruhan sebuah gengsi . Ratusan juta uang yang dikeluarkan sepertinya bukan masalah.
Bos OTP 37, misalnya. Untuk mendatangkan Zulham, tentu bukan biaya sedikit. Itu belum biaya akomodasinya. Selama satu bulan di Makassar Zulham menginap di salah satu hotel berbintang. Tarifya Rp450 ribu per hari. Itu belum termasuk bayaran sekali bertading. Nah bisa dibayangkan berapa besar biaya yang dikeluarkan pemilik klub.
Itu baru satu pemain. OTP 37 juga akan mendatangkan Agung Prasetyo dan Muchlis Hadi Ning Syaifullah, pemain Timnas U-23 yang membela Indonesia di SEA Games.
Tapi, sekali lagi bagi bos OTP 37 bukan hadiah dari turnamen ini yang ia kejar. ‘’Yang pertama karena hobi. Tapi tujuan utama saya ingin menghibur masyarakat sekalian kumpul-kumpul dengan pemain sambil berbagi cerita sambil menunggu buka puasa,” jelas Febrianto Wijaya yang tahun ini merupakan tahun ke lima keikutsertaanya di Liga Ramadhan.
Di turnamen ini Febri juga ikut turun lapangan. Posisinya striker. Ia juga mantan pemain di sejumlah klub di Indonesia. Terakhir ia bermain untuk Persela Lamongan.
Eks pemai PSM ini tidak mau menyebut berapa besar dana yang ia keluarkan selama mengikuti Tarkam ini.
‘’Tidak etis kalau saya sebutkan. Bagi saya yang penting kita semua senang. Itu saja,” katanya.
Hal senada dikatakan bos Nahusam FC, Nabiel Husain Said Amien. “Pokoknya kita enjoy. Di sini ternyata asik,” ugkap pemilik Pusamania Borneo FC, klub asal Samarinda, Kalimantan Tmur, ini.
Pemilik klub lainnya, juga demikian. Tak satu pun yang mau menyebut nilai. Namun sumber yang diterima Sportanews.com menyebutkan bayaran sekali main untuk pemain sekelas Zulham bisa mencapai Rp 1,5 juta sampai Rp 2,5 juta per pertandingan. Itu belum termasuk bonus jika menang dan bonus jika klubnya lolos ke babak berikutnya.
‘’Pokoknya ada sponsor yang menjanjikan bonus. Kalau kita lolos ke babak 16 besar, ada bonus. Babak delapan besar bousnya tambah. Kalau juara, bonusnya lain lagi,’’ kata Febrianto saat memberikan pengarahan sebelum bertanding.
sumber: sportanews




















Komentar