ACEHFOOTBALL.net — Kekalahan kembali menghantui Persiraja Banda Aceh U-19 saat menghadapi Sumsel United U-19 pada laga pembuka putaran kedua Elite Pro Academy (EPA) Championship U-19 Grup A.
Bermain di Bekasi, Sabtu (18/4/2026), Laskar Rencong Muda takluk dengan skor tegas 0-3—hasil yang sekaligus memperpanjang tren negatif mereka atas lawan yang sama.
Dari lima pertemuan terakhir, Persiraja U-19 belum sekalipun mampu meraih kemenangan. Bahkan, kekalahan kali ini datang dengan margin meyakinkan, mempertegas adanya kesenjangan efektivitas di antara kedua tim.
Secara permainan, Persiraja sejatinya tidak sepenuhnya kalah. Mereka tampil agresif di awal laga, bahkan langsung menciptakan peluang emas di menit kedua.
Namun, seperti yang berulang kali terjadi, kegagalan memaksimalkan peluang menjadi titik lemah utama.
Sebaliknya, Sumsel United U-19 tampil lebih klinis. Tiga gol yang dicetak melalui Muhammad Daffa Trihardi (35’), Pasha Andrio (63’), dan Zaid Imam Nawawi (90’) lahir dari situasi yang memanfaatkan kelengahan lini belakang Persiraja. Ini bukan sekadar soal taktik, melainkan persoalan mendasar: konsentrasi, komunikasi, dan pengambilan keputusan di momen krusial.
Pelatih Yudi Supriatna mengakui timnya sebenarnya sudah menjalankan rencana permainan dengan baik di awal. Namun ia menyoroti satu masalah klasik yang belum terselesaikan.
“Gol lawan terjadi dari kesalahan pemain sendiri. Peluang kita banyak, tapi yang menentukan hasil adalah siapa yang bisa mencetak gol,” ujarnya seperti dilansir ileague.id.
Pendekatan pembinaan yang diterapkan Persiraja—mengandalkan pemain kelahiran 2009 dan 2010—memang memberi dampak jangka panjang, namun di sisi lain menghadirkan konsekuensi berupa minimnya pengalaman di level kompetitif.
Hal ini terlihat jelas saat menghadapi tekanan dan situasi krusial di pertandingan.
Sebagai respons, Yudi berencana menggeser metode evaluasi dengan memperkuat pemahaman taktik melalui sesi kelas.
Fokus utama adalah meningkatkan komunikasi dan kemampuan membaca permainan (scanning), dua aspek yang dinilai menjadi akar dari kesalahan berulang.
Kekalahan ini bukan sekadar hasil buruk, tetapi sinyal kuat bahwa Persiraja U-19 masih memiliki pekerjaan rumah besar.
Tanpa perbaikan signifikan dalam aspek dasar permainan, tren tanpa kemenangan bukan tidak mungkin akan terus berlanjut di sisa kompetisi.





















Komentar