ACEHFOOTBALL.net — Tak ada lagi ruang aman. Memasuki pekan ke-25, persaingan di dua grup Championship 2025/26 berubah menjadi pertarungan terbuka. Lima besar di masing-masing grup kini saling “membunuh” demi satu tujuan: tiket promosi.
Di grup yang dihuni Adhyaksa FC Banten, tekanan terasa paling brutal. Meski memimpin klasemen dengan 47 poin, posisi Adhyaksa sama sekali belum nyaman.
Apalagi pada pekan ini, Hamdi dkk akan menantang tim peringkat tiga, Bekasi City. Jika kalah, alamat buruk akan menimpa.
Setiap laga menjadi pertaruhan, karena Garudayaksa FC terus menempel ketat dengan 45 poin. Selisih tipis ini membuat duel keduanya berpotensi menjadi “final dini” yang menentukan arah promosi.
Di bawahnya, situasi lebih panas lagi. FC Bekasi City dan Sumsel United sama-sama mengoleksi 38 poin, menciptakan tekanan berlapis bagi tim di atasnya.
Kedua tim ini bukan sekadar penggembira, mereka adalah pemburu aktif yang siap menyalip kapan saja.
Posisi paling genting justru ditempati Persiraja Banda Aceh. Dengan 37 poin, Laskar Rencong berada di ambang batas: sedikit terpeleset, langsung terlempar; sedikit menang, bisa melonjak.
Pada pekan ini, Armada Kutaraja akan menerima tamu Garudayaksa FC. Ambisi dan motivasi pun menjadi berbeda. Meski dua laga sebelumnya di Banda Aceh berakhir imbang.
Namun inkonsistensi, terutama dalam menjaga momentum, membuat mereka berada dalam tekanan paling nyata di antara lima besar.
Sementara itu di grup lainnya, pertarungan lima besar tak kalah kejam. PSS Sleman memimpin dengan 49 poin, tetapi keunggulan itu terus digerogoti PS Barito Putera yang hanya terpaut satu angka.
Kedua tim ini terlibat dalam duel psikologis—siapa tergelincir, bisa langsung kehilangan puncak.
Persipura Jayapura di posisi ketiga dengan 47 poin menjadi ancaman laten. Mereka tak banyak disorot, namun konsistensinya membuat posisi dua besar tetap dalam jangkauan.
Sedangkan Kendal Tornado FC (44 poin) terus menjaga napas persaingan, meski dituntut lebih tajam di lini depan jika ingin benar-benar menembus elite.
Di posisi kelima, Persela Lamongan berada dalam situasi “hidup-mati”. Dengan 36 poin, mereka tak punya banyak pilihan selain menang di sisa laga jika ingin tetap relevan dalam perebutan tiket promosi.
Gambaran besar dari dua grup ini menunjukkan satu hal: tak ada lagi pertandingan biasa. Setiap laga adalah duel langsung, setiap poin adalah nyawa.
Lima besar bukan lagi sekadar posisi klasemen, melainkan arena pertarungan paling kejam di akhir musim.
Siapa yang lengah, akan tersingkir. Siapa yang konsisten, akan bertahan.




















Komentar