ACEHFOOTBALL.net — Sebelum duel besar berlangsung, Bekasi City punya trik epik. Flyer yang dirilis sebelum duel kontra Persiraja Banda Aceh jelas bukan sekadar materi promosi pertandingan. Tapi, ada aura psikologis.
Secara visual, gambar pemain asal Aceh dipasang. Ramadhan nama pria yang lebih popules dengan nama Madon.
Gambar itu ditempatkan sebagai figur sentral dengan busana bernuansa Timur Tengah, bersurban merah, memegang pedang, dan menunggang kuda di latar stadion yang berkabut perang.
Sudah jelas, ini bukan estetika biasa. Ini bahasa simbolik perang. Madon diposisikan sebagai “pejuang” yang kini berdiri di kubu lawan, seolah mengirim pesan: senjata Persiraja kini dipakai untuk melawan Persiraja.
Lebih tajam lagi, Madon adalah pemain asli Aceh dan mantan Persiraja. Dalam konteks rivalitas emosional sepak bola, ini adalah psywar visual—menggugah memori, identitas, dan kebanggaan lokal, sekaligus mengaburkannya.
Bekasi City seolah mengirim pesan bahwa mereka punya “senjata dari Aceh” untuk menaklukkan Aceh.
Hasilnya. Pesan visual itu kini terasa seperti nubuat. Madon justru menjadi algojo yang menenggelamkan mantan klubnya dengan gol tunggal pada menit ke-62 dalam kemenangan 1-0 Bekasi City di Stadion Patriot Candrabhaga, Minggu (22/2/2026) malam.
Gol tersebut bukan hanya bernilai tiga poin, tetapi juga sarat simbolisme. Seorang anak Aceh yang pernah membela Persiraja kini menjadi aktor utama yang menghentikan langkah klub kampung halamannya.
Ini terlepas dari segala kontroversi wasit yang diserang pelatih sarat pengalaman sekaliber Jaya Hartono. Sepertinya kontroversi itu sudah tenggelam usai 90 menit laga.
Di lapangan, duel berlangsung keras dan penuh tensi. Persiraja tampil menyerang, namun Bekasi City mampu menjaga disiplin pertahanan dan memaksimalkan momen emas lewat Madon.
Kemenangan ini semakin mengukuhkan posisi Bekasi City di papan tengah klasemen, sementara Persiraja harus menelan pil pahit dalam laga yang bukan hanya kalah skor, tetapi juga kalah narasi.
Di sepak bola modern, pertandingan dimulai jauh sebelum kickoff. Bekasi City membuktikan bahwa perang simbol dan psikologi bisa sama efektifnya dengan strategi di atas rumput hijau. Apakah anda percaya?
View this post on Instagram





















Komentar