ACEHFOOTBALL.net — Tiga pertandingan, tiga kekalahan. Persiraja Banda Aceh akhirnya mengambil keputusan paling keras: memecat seluruh jajaran pelatih.
Jaya Hartono sebagai pelatih kepala, Wahyu AW dan Ferry Ferdinan sebagai asisten, Faisal Munandar sebagai pelatih fisik, serta Muhammad Yasir sebagai pelatih kiper semuanya harus meninggalkan Lampineueng.
Keputusan itu diumumkan setelah Persiraja kalah 1-2 dari Persikad Depok pada pekan ketiga Championship 2026/27. Secara hasil, keputusan tersebut mudah dipahami.
Persiraja mengawali musim dengan kekalahan 0-1 dari Semen Padang, kemudian takluk 1-2 di kandang PSPS Pekanbaru, sebelum kembali kalah 1-2 dari Persikad. Tiga laga, nol poin.
Tetapi sepak bola tidak selalu sesederhana tabel klasemen. Pertanyaan yang lebih penting justru: siapa yang paling bertanggung jawab atas kegagalan itu?
Dalam struktur sebuah tim sepak bola, pelatih kepala adalah pengambil keputusan teknis utama. Dialah yang menentukan game plan, memilih pemain, menyusun pendekatan pertandingan, melakukan pergantian pemain, serta bertanggung jawab terhadap hasil akhir.
Karena itu, jika manajemen ingin mencari titik pertanggungjawaban paling langsung dari tiga kekalahan tersebut, nama Jaya Hartono memang berada di baris terdepan.
Apalagi, Jaya bukan bagian dari fondasi awal tim pada musim sebelumnya. Ia baru masuk pada ujung putaran kedua musim lalu, kemudian dipercaya melanjutkan pekerjaannya untuk musim 2026/27.
Bahkan, manajemen sempat memperpanjang kontraknya pada akhir Juni 2026 dengan alasan kesinambungan dan pembangunan tim.
Musim lalu, bersama Jaya, Persiraja mencatat tiga kemenangan, empat seri, dan dua kekalahan dari sembilan pertandingan serta finis di posisi kelima.
Ironisnya, tiga kekalahan pada awal musim baru justru membuat kesinambungan tersebut berhenti hanya beberapa pertandingan setelah kompetisi dimulai.
Di sinilah pemecatan seluruh staf menjadi pertanyaan yang lebih besar.
Wahyu AW, Ferry Ferdinan, Faisal Munandar, dan Muhammad Yasir bukan orang baru di ruang ganti Persiraja. Mereka merupakan bagian dari staf yang sudah bekerja sejak musim lalu ketika tim masih ditangani Akhyar Ilyas.
Artinya, ketika hasil buruk datang, tidak otomatis seluruh persoalan dapat diletakkan di pundak mereka dengan bobot yang sama.
Asisten pelatih bekerja dalam kerangka taktik dan keputusan pelatih kepala. Pelatih fisik bertanggung jawab pada aspek kebugaran dan kesiapan fisik.
Pelatih kiper memiliki wilayah kerja spesifik. Mereka tentu tetap memiliki kontribusi terhadap performa tim, tetapi ruang kewenangan mereka tidak identik dengan kewenangan pelatih kepala.
Karena itu, pemecatan kelimanya sekaligus lebih tepat dibaca sebagai reset total, bukan sekadar pergantian pelatih.
Manajemen seolah mengatakan, masalah Persiraja bukan hanya pada figur Jaya Hartono, melainkan pada keseluruhan sistem kerja teknis. Itu merupakan hak manajemen. Namun konsekuensinya juga tidak kecil.
Memecat staf yang sudah memahami karakter pemain berarti pelatih baru harus membangun ulang komunikasi, metodologi latihan, pembagian kerja, hingga pemahaman terhadap kondisi setiap pemain.
Dalam sepak bola profesional, waktu adalah aset. Persiraja justru membuang sebagian modal adaptasi yang sudah dimiliki. Lebih jauh lagi, tiga kekalahan tersebut memang memalukan bagi klub sebesar Persiraja.
Bahkan, sejumlah laporan menyebut tiga kekalahan beruntun pada awal musim ini sebagai catatan hitam dalam sejarah Persiraja. Jika pun bukan catatan hitam, yang pasti ini sebagai rekor buruk awal musim. Boleh dikata, catatan yang sangat jarang terjadi.
Yang menarik, sebelum pemecatan, Jaya sendiri sudah mengakui tanggung jawabnya. Setelah kekalahan dari Persikad, ia menyatakan siap menerima keputusan manajemen dan menganggap hasil tersebut sebagai tanggung jawabnya.
Pernyataan itu sebenarnya memberi gambaran jelas mengenai hirarki tanggung jawab dalam sepak bola. Jika sebuah tim gagal, kepala pelatih memang menjadi orang pertama yang dievaluasi.
Maka, secara logika teknis, mengganti Jaya Hartono saja sebenarnya sudah cukup untuk mengubah arah tim tanpa harus membongkar seluruh perangkat kepelatihan.
Tetapi manajemen memilih jalan berbeda. Mereka tidak sekadar mengganti sopir. Mereka mengganti seluruh awak kabin.
Persoalannya sekarang bukan lagi siapa yang dipecat. Itu sudah selesai. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: siapa yang datang setelah mereka?
Jika Persiraja menunjuk pelatih baru tetapi kembali membangun struktur tanpa evaluasi mendalam terhadap komposisi pemain, pola rekrutmen, strategi permainan, serta mekanisme pengambilan keputusan, maka pemecatan lima pelatih hanya akan menjadi pergantian nama di ruang teknis.
Sebaliknya, jika keputusan ini merupakan bagian dari evaluasi menyeluruh, maka Persiraja harus berani membedah masalah sampai ke akarnya.
Tiga kekalahan bukan sekadar angka nol di kolom poin. Ia adalah alarm. Dan alarm yang paling berbahaya bukanlah ketika pelatih dipecat.
Alarm sebenarnya adalah ketika klub mengganti pelatih, tetapi tidak mengubah cara berpikirnya.
Persiraja kini berada di titik itu. Laskar Rencong tidak hanya membutuhkan pelatih baru, tetapi juga membutuhkan jawaban baru atas persoalan lama: bagaimana membangun tim yang mampu bertahan dalam kompetisi, bukan sekadar bereaksi setiap kali hasil buruk datang.
Karena dalam sepak bola, memecat pelatih adalah keputusan paling mudah. Yang sulit adalah memastikan orang berikutnya tidak menerima masalah yang sama dengan bungkus yang berbeda.























