ACEHFOOTBALL.net — Dua pertandingan, dua kekalahan. Persiraja Banda Aceh mengawali Championship 2026/2027 dengan catatan yang jauh dari harapan.
Lebih mengkhawatirkan, satu kekalahan itu terjadi di kandang sendiri, tempat yang semestinya menjadi sumber poin penting bagi Laskar Rencong.
Kekalahan 0-1 dari Semen Padang pada laga pembuka di Stadion H. Dimurthala menjadi alarm pertama. Namun, Persiraja gagal meresponsnya dengan kebangkitan.
Saat bertandang ke markas PSPS Pekanbaru, Persiraja kembali tumbang 1-2. Dua laga berlalu, belum satu pun poin berhasil diraih dari lapangan.
Ditambah sanksi pengurangan satu poin, Persiraja kini terpuruk di peringkat kedua dari bawah klasemen dengan minus satu poin.
Situasi ini menghadirkan anomali yang sulit diabaikan. Persiraja justru kehilangan momentum pada fase awal kompetisi, ketika setiap poin seharusnya menjadi fondasi untuk membangun kepercayaan diri dan menjaga persaingan.
Start buruk ini bukan sekadar persoalan posisi di klasemen, melainkan ujian terhadap kesiapan tim menghadapi kompetisi panjang.
Ujian berikutnya pun tidak ringan. Persikad Depok, yang akan menjamu Persiraja di Stadion Pakansari, Sabtu (26/9/2026), datang dengan modal sempurna: enam poin dari dua pertandingan.
Mereka membidik kemenangan ketiga, sementara Persiraja berjuang menghindari kekalahan beruntun yang ketiga. Di atas kertas, momentum dan kepercayaan diri lebih berpihak kepada tuan rumah.
Persiraja justru harus membuktikan bahwa tekanan dua kekalahan tidak kembali meruntuhkan permainan mereka.
Pelatih Jaya Hartono telah menyoroti persoalan disiplin lini belakang setelah kekalahan dari PSPS. Artinya, pekerjaan rumah Persiraja bukan lagi sekadar mencari gol, tetapi membenahi fondasi permainan.
Lalu, apa sebenarnya target Persiraja musim ini? Jika membidik promosi, start seperti ini jelas bukan modal yang memadai. Jika targetnya membangun tim yang kompetitif, publik berhak melihat progres nyata, bukan sekadar janji evaluasi.
Sanksi minus satu poin memang menjadi beban tambahan. Namun, itu tidak bisa menjadi penjelasan tunggal atas dua kekalahan. Persiraja tetap harus bertanggung jawab atas performa di lapangan.
Laga melawan Persikad akan menjadi tolok ukur awal: apakah Persiraja mampu menghentikan kemerosotan dan menunjukkan arah kebangkitan, atau justru membiarkan krisis awal musim semakin dalam?
Bagi Laskar Rencong, pulang dari Bogor dengan poin bukan lagi sekadar ambisi. Itu kebutuhan mendesak. Sebab, kompetisi masih panjang, tetapi waktu untuk terus kehilangan poin tidak tak terbatas. []





















