Kamis, Juli 2, 2020
Beranda Bolanesia Simon: Pemain Indonesia Terjebak di Zona Nyaman

Simon: Pemain Indonesia Terjebak di Zona Nyaman

ACEHFOOTBALL.net — Eks pelatih tim nasional Indonesia Simon McMenemy, menyebut pemain Indonesia terjebak zona nyaman sehingga sulit untuk mengembangkan diri. Apalagi berkompetisi di luar negeri.

Dikutip ACEHFOOTBALL dari Bolasport, Simon McMenemy memang paham betul kultur sepak bola penduduk nusantara, karena tiga tahun berkarier di Indonesia. Selama itu pula dia mengaku menemukan titik lemah pemainyang sulit berkembang hingga tingkat profesional.

Pelatih asal Skotlandia itu menyebutkan, pemain Indonesia terlalu bergantung pada pakem sepak bola di kompetisi domestik sehingga kurang pengalaman dalam memahami taktik.

Dukungan suporter yang begitu besar dianggap menjadi faktor pemain enggan mencoba peruntungan di luar negeri dan menjadi lebih berkembang.

“Saya rasa ada persoalan budaya di sepak bola Indonesia. Pemain bayarannya bagus dan liga juga strukturnya bagus,” ucap Simon dilansir Bolasport dari Youtube Bayu Eka Sari alias Bang Bes.

“Pertandingan juga menarik. Banyak penonton dan kamu bisa terlihat seperti pahlawan. Masalahnya, tidak ada dorongan bagi pemain untuk bermain keluar dari zona nyaman mereka dan bermain di negara lain untuk mengembangkan diri,” ujarnya.

Zona nyaman yang tercipta ketika bermain di rumah sendiri membuat satu masalah yang kerap tidak disadari oleh para pemain Indonesia. Mereka menjadi lebih jago kandang ketimbang harus menjalani laga tandang.

Hal itu terbukti dari penampilan timnas Indonesia yang jauh lebih buruk ketika bermain di negara lain. “Semua ada untuk mereka di rumah. Inilah alasan mengapa timnas Indonesia tidak bermain bagus ketika tidak bermain di kandang,” ujar Simon.

“Semua tim yang main di kandang selalu diharapkan bisa menang, tak peduli mereka di papan atas atau di papan bawah. Itulah sepak bola Indonesia,” katan mantan pelatih timnas Filipina ini.

itu kemudian menyarankan supaya Indonesia lebih banyak mengirimkan pemain muda ke luar negeri, seperti yang dilakukan lewat program Garuda Select. Saat ini Garuda Select sudah memasuki tahap kedua.

Program pembinaan usia muda yang dilakukan di luar negeri tentu dapat membantu Indonesia menemukan talenta-talenta sepak bola yang berguna di masa depan. Harapannya, mereka terbiasa dengan pengalaman baru dan tidak terlena dengan zona nyaman yang ada.

“Saya rasa jika pemain muda mendorong diri mereka untuk bermain ke luar negeri seperti proyek Garuda Select, di waktu bersamaan itu tidak akan mempengaruhi tim senior karena mereka masih U-16,” tutur Simon.

“Semakin banyak pemain didorong bermain keluar dan mendapatkan pengalaman di liga yang lain, lalu kembali ke tim senior, maka mereka akan bisa melawan tim selevel negara Timur Tengah.”

“Yanto (Basna) adalah salah satu yang melakukan hal itu. Evan (Dimas) juga punya pengalaman dan mereka jadi lebih baik,” tandas pria yang sempat satu frame dengan artis seksi Rahma Azhari.

Tinggalkan Balasan

Populer

10 Orang Terkaya di Aceh Tolak Beli Saham Persiraja?

ACEHFOOTBALL --- Ada cerita menarik dibalik penguasaan 80 persen saham mayoritas oleh Nazaruddin alias Dek Gam. Ternyata proses lobi sudah dilakukan terhadap 10 orang...

Persiraja Siap Main Dimana Saja: Hendri Susilo

ACEHFOOTBALL.net — Pelatih Persiraja Banda Aceh Hendri Susilo, menyatakan timnya siap tampil (main) di mana saja ketika kompetisi dilanjutkan. “Tidak masalah, di mana pun digelar,...

Sejarah: Ayah Angkat Martunis Cetak 100 Gol di Eropa

ACEHFOOTBALL --- Ayah angkat Martunis, Cristiano Ronaldo menciptakan sejarah dengan menjadi pemain pertama mencetak 100 gol pada kompetisi antarklub di benua Eropa. Gol itu terdiri...

Tak Setuju Kompetisi Dilanjutkan, Ini Alasan Persebaya

ACEHFOOTBALL.net — Persebaya Surabaya menyatakan sikap tidak setuju kompetisi Liga 1 tahun 2020 dilanjutkan karena menilai sangat berisiko di tengah situasi pandemi COVID-19 seperti...

Terbaru

error: Content is protected !!