Akhyar Ilyas: Sepakbola Untuk Dinikmati, bukan Dibawa Mati

Screenshot Instagram Akhyar Ilyas

ACEHFOOTBALL.net — Sudah tiga laga tandang (away) dilewati skuat Persiraja dalam kondisi abnormal. Ada atmosfer tak sehat dari sisi perlakuan suporter tuan rumah terhadap lawannya.

Kondisi ini membuat asisten Pelatih Persiraja Akhyar Ilyas prihatin. Ungkapan itu dilontarkan mantan pemain Persija Jakarta ini dalam akun instagramnya beberapa jam sebelum kick-off Persita versus Persiraja, Rabu (18/9/2019).

Pelatih yang sudah mengantongi lisensi B AFC ini, mengatakan, “Bagi kami sepakbola adalah sebuah profesi. Ada aturan yang harus kami patuhi dan hormati, ada respect dan persaudaraan, lewat sepakbola kita bisa saling mengenal,”

“Di lapangan kita saling adu aksi, skill, taktic dan strategi setelah itu kita berjabat tangan dan berangkulan kembali bahkan di luar kami ngopi bareng.”

“Karena rivalitas hanya 90 menit. Sepakbola untuk dinikmati bukan untuk dibawa mati. Karena hidup bukan hanya tentang sepakbola.”

“Psywar biasa tapi rasis dan kekerasan yang mengancam jiwa itu luar biasa dan tidak bisa ditolerir. Butuh keseriusan dari federasi. Bagi kami pelatih, butuh belajar untuk meningkatkan ilmu kepelatihan.”

“Bagi pemain butuh belajar untuk meningkatkan kualitas diri, bagi suporter butuh belajar untuk lebih dewasa. Demi sepakbola Indonesia yang lebih baik. Karena ini juga tanggungjawab kita semua.” tulis Akhyar.

Seperti diketahui, dalam lawatan ke Serang, Cilegon dan Tangerang, skuat Persiraja mendapat intimidasi, teror dari oknum suporter tuan rumah.

1 KOMENTAR

  1. Saya juga heran, apa yang membuat suporter Perserang, Cilegon United dan Persita, begitu antipati dengan Persiraja. Apakah betul, seperti alasan mereka balas dendam, berarti sewaktu mereka melakukan pertandingan away ke Banda Aceh, apakah ada perlakuan yang sama soporter Persiraja kepada mereka ? Setau saya ngak tu. Jadi kenapa, afa apa dan siapa yang menggerakkan mereka, bahkan teriakan teriakan dan perlakuan mereka sudah menjurus rasial. Bukan akar sejarah Banten itu sangat dekat dengan Aceh ? Jadi kenapa sampai begitu, mari kita merenungi bersama, agar kedepan tidak lagi terjadi. Lakhaula walakuata illabillah hil’adziiim.

Tinggalkan Balasan